teori humanistik

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Dalam suatu lingkup pendidikan diperlukan suatu proses belajar mengajar yang yang sangat efektif karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar siswa.

Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan potensi mereka. Penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.

Dalam sejarah perkembangan psikologi, kita mengenal beberapa aliran psikologi. Tiap aliran psikologi tersebut memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang belajar. Pandangan-pandangan itu umumnya berbeda satu sama lain dengan alasan-alasan tersendiri.

Teori Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.

Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Selain itu, guru harus menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya sebagai fasilitator yang memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

 

B.     Tujuan

Tujuan kami menulis makalah ini adalah.

1.      Memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.

2.      Menjelaskan pengertian belajar menurut Teori Humanistik.

3.      Menginformasikan pandangan Kolb, Honey dan Mumford terhadap belajar.

 

C.     Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian belajar menurut Teori Humanistik?
  2. Bagaimana pandangan Kolb terhadap belajar?
  3. Bagaimana pandangan Honey dan Mumford terhadap belajar?

 

BAB II

BELAJAR MENURUT TEORI HUMANISTIK, KOLB, HONEY DAN MUMFORD

 

A.     Pengertian Belajar Menurut Teori Humanistik

Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Teori Humanistik ini dianut oleh Bloom dan Krathwohl, Kolb, Honey dan Mumford, serta Habermas.

Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Guru

Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa petunjuk:

1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas

2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.

3.      Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.

4.      Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.

5.      Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

6.      Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok

7.      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.

8.      Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa

9.      Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.

10.  Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. (http://trimanjuniarso.wordpress.com/)

 

Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada roh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :

1.      Merumuskan tujuan belajar yang jelas

2.      Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.

3.      Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri

4.      Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri

5.      Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.

6.      Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.

7.      Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya

8.      Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa

 

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma ,disiplin atau etika yang berlaku. (http://trimanjuniarso.wordpress.com/)

 

  1. Pandangan Kolb Terhadap Belajar

Kolb seorang aliran penganut humanmistik membagi tahapan-tahapan belajar menjadia 4, yaitu tahap pengalaman konkrit, tahap pengalaman aktif dan reflektif, tahap konseptualisasi, dan tahap eksperimentasi aktif. (Asri Budiningsih, 2005:70)

Concrete experience adalah sebuah gaya belajar yang berbasis atas pengalaman nyata. Pada pola ini seseorang memiliki kencederungan untuk terbuka dan tanpa curiga menerima hal-hal baru. Reflective observation adalah kelompok gaya belajar ini mampu melihat dan berfikir tentang pengalaman yang dialami dari berbagai sudut pandang. Abstract conceptualisation adalah sebutan untuk gaya belajar yang dengan sadar mengelola teori-teori yang logis dengan mengintegrasikan hal-hal yang diamati. Active experimentation bagi orang-orang akan belajar dan memasukkan data ke otaknya dengan mencoba semua teori-teori yang ada.

Dari keempat kelompok menciptakan empat pola dasar cara belajar.

1.      Gaya belajar dreamer (diverger)

Secara mudah disebut pemimpi, karena gaya ini terletak antara model concrete experience dengan reflective observation. Mereka yang berada dalam kelompok gaya belajar ini cenderung terbuka terhadap pengalaman baru. Lalu mereka akan mampu berfikir dan menganalisa atas pengalaman tersebut. Pada saat bertindak orang-orang dalam tipe pemimpi ini akan menempatkan pandangan orang lain sebagai pertimbangan. Kelebihan orang dalam gaya belajar tipe pemimpi ini adalah mampu mencari informasi-informasi di balik sebuah berita. Mereka mampu mengenali dan membedakan permasalahan- permasalahan yang muncul. Mereka mampu membedakan hasrat dan keadaan saat ini. Mereka adalah tipe orang yang umumnya mampu menggali opini-opini orang lain. Karena posisinya, mereka ini memiliki beberapa kelemahan umum seperti; cenderung kurang aktif tetapi banyak ber-ide. Mereka adalah tipe pengharap. Keadaan tersebut membuat mereka tidak sanggup melihat dengan arif dan detail jika permasalahan yang dihadapi terlalu banyak.

Orang-orang tipe ini cenderung tidak senang memberikan kritik yang keras karena mereka juga tidak suka dikritik. Para dreamer ini akan belajar dengan efektif jika mereka diberikan waktu yang cukup mengolah observasinya; jika permasalahan dipresentasikan kepada mereka secara visual; jika mereka berkesempatan mendengar dan mengobservasi; akan lebih baik jika mereka berkesempatan melakukan pengulangan dengan menuliskan laporan atau analisa sesudah mereka menerima/melihat hal baru tersebut; yang paling mencolok adalah mereka akan belajar dengan sangat efektif jika tidak ada tekanan dari pihak luar.

 

2.      Thinker (assimilitor)

Para pemikir ini akan memikirkan segala permasalahan dan tatanan yang terstruktur. Mereka mampu membentuk teori-teori berdasarkan analisa mereka atas permasalahan tersebut. Kata kunci yang mudah diterapkan kepada tipe pemikir ini adalah segala alasan yang logis dan gaya berfikir rasional karena mereka terletak di antara kelompok reflective observation dan abstract conceptualisation. Keunggulan tipe ini adalah bahwa mereka cerdas menemukan solusi-solusi alternatif; mereka sangat cerdas memanfaatkan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari; mereka sangat logis dan senang atas ketepatan; mereka cerdas untuk mengorganisasikan dan merencanakan sesuatu. Kelemahan tipe ini adalah mereka kadangkala menempatkan teori lebih dalam daripada kenyataannya; mereka dengan kemampuan berfikirnya cenderung menghindari risiko; mereka secara jelas terlihat tidak terlalu memperhatikan perasaan dirinya dan orang lain; orang ini memiliki perasaan akan kenyataan yang cukup minim.

Orang dengan tipe ini akan sangat mudah belajar jika; mereka diberikan struktur yang jelas; jika mereka mampu mengamati segala sesuatu secara logis; jika mereka membekali dirinya dengan berbagai data; dan mereka akan sangat efektif dalam belajar jika segala sesuatunya teratur dan hening untuk berfikir.

3.      Decision-maker (converger)

Gaya ini terletak di antara model pemahaman abstract conceptualisation dan active experimentation. Mereka yang berada dalam kelompok ini sangat senang mengaplikasikan ide-idenya secara praktis. Mereka cenderung mampu bereaksi secara cepat dan lebih senang berhubungan langsung dengan orang lain. Mereka sangat senang jika berada dalam situasi yang jelas dan tidak mengambang. Kelebihan kelompok ini adalah; mereka sangat mudah untuk penasaran, senang mengambil keputusan, menguji solusi dengan praktik langsung dan cerdas dalam menentukan sasaran serta menentukan prioritasnya. Kelemahan kelompok ini adalah; tidak sabar, memiliki semangat untuk beraksi, lebih berorientasi kepada tugas daripada orang-orangnya dan tidak senang dengan alternatif-alternatif.

Cara belajar yang efektif bagi orang ini adalah jika mereka bisa menggambarkan kesimpulan-kesimpulannya sendiri, jika segala sesuatunya jelas dan memiliki relevansi praktis terhadap permasalahan. Mereka akan mudah belajar jika mereka ditunjukkan/ didemonstrasikan segala sesuatunya atau mencoba sesuatu dengan bantuan ahlinya dan lebih mudah belajar jika mereka mampu mengembangkan aktivitas dengan hasil yang jelas.

4.      Doer (accomodator)

Mereka dalam tipe ini mendasari kesimpulannya atas pengalaman yang kongkrit dan percobaan yang aktif. Mereka mengandalkan informasi dari pihak lain dan mereka sangat aktif dan secara konstan mencari tantangan-tantangan baru. Kekuatan kelompok ini adalah bahwa mereka cenderung aktif, penuh harap, penuh intuasi dan berhubungan baik dengan orang lain bahkan mampu memotovasi orang lain. Kelemahannya adalah bahwa mereka seringkali sangat tidak sabaran, cepat menyerah dan jarang menyelesaikan pekerjaannya, mereka tidak suka dengan teori-teori dan tidak baik dalam mengorganisir dan merencanakan sesuatu. Bagi orang bertipe ini, belajar yang paling efektif adalah ketika mereka berada pada lingkungan yang menawarkan tantangan-tantangan yang konstan; jika mereka terdesak; atau bila bekerja dengan intensif dalam group yang cocok; lebih baik bagi mereka jika mereka memiliki latar belakang pendidikan dan pelatihan yang berfariasi.

 

  1. Pandangan Honey dan Mumford Terhadap Belajar

Menurut Honey dan Mumford ada empat jenis gaya belajar yaitu aktivis, reflektor, teoris dan pragmatis.

a)      Aktivis:

Aktivis suka melibatkan diri dalam pengalaman baru dan berhubungan dengan ide baru. Mereka suka bertindak tanpa banyak berfikir akibatnya. Mereka jarang membuat persediaan untuk pembelajaran baru atau merenung kembali.

i.     Pelajar aktivis menyenangi pelajaran yang:

–         melibatkan pengalaman, masalah dan peluang baru

–         melibatkan kerja kelompok

–         mendesak mereka menyelesaikan suatu tugas yang sangat sulit

–         meminta mereka mengetuai diskusi

ii.    Pelajar aktivis tidak menyenangi pelajaran yang:

–         hanya meminta mereka mendengar kuliah / penerangan yang panjang lebar

–         melibatkan bacaan, penulisan atau berfikir secara sendirian

–         meminta mereka mengingat dan memahami data

–         mendesak mereka untuk mengikut arahan tanpa banyak tanya-jawab

b)      Reflektor

Reflektor suka melihat sesuatu situasi dari berbagai perspektif. Mereka suka mengumpulkan data, mengulang dan berfikir secara mendalam sebelum mengambil suatu keputusan. Mereka suka memerhatikan pengalaman orang lain dan akan mendengar pandangan orang lain itu sebelum menawarkan pandangan mereka sendiri.

i.     Pelajar reflektor menyenangi pelajaran yang:

–         dapat memerhati individu atau kerja sama

–         meminta mereka mengulang dan mempelajari perkara yang telah terjadi

–         meminta mereka menyediakan analisis dan laporan tanpa perlu mematuhi jangka masa tertentu

ii.    Pelajar reflektor tidak menyenangi pelajaran yang:

–         meminta mereka menjadi pemimpinmeminta mereka membuat sesuatu tanpa sebarang persediaan

–         mendesak mereka untuk menyelesaikan suatu tugasan yang amat sukar

–         mendesak mereka untuk menyelesaikan suatu tugas dalam tempo masa yang ditentukan

c)      Teoris:

Teoris suka membuat sesuatu berdasarkan panduan dan teori yang jelas. Mereka akan mematuhi panduan itu satu persatu. Mereka seorang ‘perfectionist’.

i.     Pelajar teoris menyenangi pelajaran yang:

–         menggunakan kemahiran dan pengetahuan mereka untuk menyelesaikan sesuatu tugas

–         berstruktur dan ada matlamat yang jelas.

–         membolehkan mereka bertanya dan mendapat ide baru

ii.    Pelajar teoris tidak menyenangi pelajaran yang:

–         meminta mereka melibatkan diri dalam situasi yang menekan emosi dan perasaan

–         tidak berstruktur atau kurang penerangan awal

–         mendesak mereka menyelesaikan suatu tugasan yang tidak diberitahu prinsip atau konsep di sebaliknya

–         mendesak mereka bekerja dengan orang yang tidak sama gaya belajar

d)      Pragmatis:

Pragmatis memiliki sifat-sifat yang praktis, tidak suka panjang lebar dengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dali, dan sebagainya. Bagi mereka yang penting adalah aspek-aspek praktis sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan. Sesuatu hanya bermanfaat jika dapat di praktekkan. Teori, konsep, dalil, memang penting, tetapi jika itu semua tidak dapat dipraktekkan maka teori, konsep, dalil, dan lain-lain itu tidak ada gunanya. Bagi mereka, sesuatu adalah baik dan berguna jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

i.     Pelajar pragmatis menyenangi pelajaran yang:

–         menunjukkan hubungan antara topik dan tugas

–         memberi peluang kepada mereka untuk mencuba teknik baru

–         menunjukkan teknik yang dapat memberi kelebihan seperti teknik yang dapat menjimatkan masa

–         menunjukkan model yang boleh mereka tiru

ii.    Pelajar pragmatis tidak menyenangi pelajaran yang:

–         tidak ada manfaat yang jelas

–         tidak ada latihan atau garis panduan untuk membuatnya

–         tidak ada manfaat yang jelas untuk dipelajari

–         yang memberi penekanan terhadap teori saja

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.     Kesimpulan

1)      Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.

2)      Teori Humanistik dianut oleh Bloom dan Krathwohl, Kolb, Honey dan Mumford, serta Habermas.

3)      Kolb membuat tahapan belajar menjadi 4 kategori, yaitu concrete experience, reflective observation, active experimentation, dan abstract conceptualization. Dari keempat tahapan tersebut menciptakan empat pola dasar cara belajar, yaitu dreamer (diverger), thinker (assimilitor), decision-maker (converger), doer (accomodator).

4)      Menurut Honey dan Mumford ada empat jenis gaya belajar yaitu aktivis, reflektor, teoris dan pragmatis.

 

B.     Saran

Diperlukan suatu proses belajar mengajar yang yang sangat efektif karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar siswa. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Agar kegiatan belajar bermakna bagi siswa, diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri. Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Frends, Ilham. 2006. Kajian Empat Aliran Teori Belajar. http://ilhamfrends.blogspot.com/. Tanggal Akses: 22 September 2009.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Mustika, Restoe. 2009. Macam-Macam Aliran Teori Belajar. http://restoe-mustika.blogspot.com/. Tanggal Akses: 15 September 2009.

Nursidik, Yahya. 2008. Teori Humanistik. http://apadefinisinya.blogspot.com/. Tanggal Akses: 15 September 2009.

Rohim, Saifur, Agus. 2009. Teori Belajar dan Pembelajaran. http://www.rain-online-business.co.cc/. Tanggal Akses: 15 September 2009.

Trimanjuniarso. 2009. Teori Belajar Humanistik. http://trimanjuniarso.wordpress.com/. Tanggal Akses: 15 September 2009.

Uamr Tirtarahardja dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

2 thoughts on “teori humanistik

    • kalo jenis2 pkerjaan dlm teori belajar honey & mumford ky nya sy blm prnah dengar, hnya sebatas bhwa dlm teori humanistik, belajar itu adlh utk memanuasiakn manusia sehingga manusia tsb dpt mencapai aktualisasi diri yg sebaik2nya. manusia punya akal dan hati nurani, mk manusia dididik dan dibina agar berperilaku sesuai norma/kaidah yang berlaku. dsnilah betapa pentingnya tugas para pendidik. itu sj sih, trims… (sepertinya sangat berkaitan erat dg pend.karakter yak???)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s