hakikat pendidikan

Hakikat Pendidikan

 

Pendidkan lebih diarahkan pada penyiapan tenaga kerja “buruh” saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir “buruh”lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata”ijazah” yang diperlukan untuk mencari pekerjaan.

Sebaiknya hakikat pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis atau taktis. Kata mencerdaskan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting, yaitu cerdas, hidup dan bangsa.

1. Tentang Cerdas

Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.

2. Tentang Hidup

Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Tuhan sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki roh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tetapi hati nurani kehidupannya sudah mati saat dengan santainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan.

3. Tentang Bangsa

Manusia selain sebagai sesosok individu, dia adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen panting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah identitas bangasa yang menjadi ciri suatu masyarakat.

Bertanya tentang hakikat pendidikan adalah bertanya mengenai pendidikan itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata didik (mendidik), yaitu: memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian: proses pengubahan sikap dan tata kelakuan seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya. Namun, praktek pendidikan justru menghasilkan “manusia mesin”, karena proses pendidikan tidak untuk menuntut pertumbuhan manusia sejak lahir hingga mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya, melainkan sekedar transfer ilmu dari guru ke siswa yang menekankan kepada aspek kognitif peserta didik.

Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu maka tidak sebuah batasan pun yang cukup untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Bahasan tentang pendidikan yang dibuat para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadikan tekanan, atau karena falsafah yang mendasarinya.

Pada gilirannya, manusia hasil pendidikan itu menjadi sumber daya pembangunan. Karena itu, pendidik dalam melaksanakan tugasnya diharapkan tidak membuat kesalahan-kasalahan mendidik. Sebab kesalahan mendidik bisa berakiabat fatal karena sasaran pendidikan adalah manusia.

Kesalahan-kesalahan mendidik hanya dapat dihindari jika pendidik memahami apa pendidikan itu sebenarnya. Gambaran yang jelas dan benar tentang pendidikan dapat diperoleh melalui pengkajian terhadap arti dan tugas pendidikan, konsep-konsep yang mendasarinya, unsur-unsurnya, dan kesatu paduan unsur itu dalam suatu wujud sistem.

Hakikat pendidikan yang sejati melingkupi 3 hal, yaitu affective atau pembentukkan pola pikir, watak dan sikap. Selanjutnya menyentuh aspek cognitive atau pengembangan ilmu pengetahuan, serta psychomotoric atau keterampilan. Satu hal yang perlu dicermati bahwa setelah pergeseran zaman, pendidikan kemudian dianggap sebuah gerbang untuk mengejar kehidupan yang serba mapan dan menjanjikan, bukan dianggap telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Dari beberapa definisi yang muncul mengenai apakah hakikat pendidikan itu, dapat diketegorikan dalam 2 pendekatan, yaitu pendekatan epistemologis dan pendekatan ontologi atau metafisik.

Pendekatan epistemologis diturunkan dari pendapat seorang filsuf bernama Rene Descartes (1596-1650) yang dipandang sebagai filosofi modern. Salah satu pernyataannya yang terkenal adalh “Cogito Ergo Sum”, dalam satu bagian dari bukunya Mediationes de Prima Philosophia.

Dari uraian tersebut dapat dilihat dasar pemikiran Descartes untuk menghilangakn keraguan untuk mendapatkan kebenaran. Di dalam pendekatan epistemologis yang terjadi ialah akar atau kerangka ilmu pendidikan sebagai ilmu. Pendekatan tersebut berusaha mencari makna pendidikan sebagai ilmu yaitu mempunyai objek yang akan merupakan dasar analisis yang akan membangun ilmu pengetahuan yang kemudian disebut ilmu pendidikan. Di dalam usaha tersebut dikaji mengenai peranan pendidikan dan kemungkinan-kemungkinan pendidikan.

Dari sudut pandang ini:

  1. Pendidikan dilihat sebagai suatu proses yang iheren dalam konsep manusia, artinya manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan.
  2. Proses pendidikan berkenaan objek dari suatu proses tersebut ialah peserta didik. Tingkah laku proses pendewasaan peserta didik merupakan objek dari ilmu pendidikan.
  3. Selanjutnya ada pula yang melihat hakikat pendidikan di dalam adanya pola struktur hubungan antara subjek dan objek yaitu antara pendidik dan peserta pendidik.

Pendekatan ontologi atau metafisik menekankan pada hakikat keberadaan pendidikan itu sendiri. Keberadaan pendidikan tidak terlepas dari keberadaan manusia. Dalam pendekatan ini keberadaan peserta didik dan pendidik tidak terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri. Pendekatan ini didasari pada tulisan seorang filsuf ahli Metafisik Aristoteles dalam bukunya Metaphysics.

Kedua jenis pendekatan mengenai hakikat pendidikan, baik pendekatan epistemologis maupun pendekatan ontologi, keduanya mempunyai kebenaran masing-masing. Ilmu pendidikan sebagai ilmu tentunya mempunyai objek, metodologi, serta analisis proses pendidikan itu. Namun demikian objek ilmu pendidikan atau subjek pendidikan adalah anak manusia sehingga tidak terlepas pentanyaan mengenai hakikat manusia.

Pendekatan-pendekatan mengenai hakikat pendidikan telah melahirkan berbagai jenis teori mengenai apakah sebenarnya pendekatan itu.

Berbagai pendekatan mengenai hakikat pendidikan digolongkan atas 2 kelompok besar, yaitu:

1. Pendekatan Reduksionisme

2. Pendekatan Holistic Integrative

Pengelompokan ini tidak bersifat hitam-putih, tetapi sekedar menekankan garis besar dari teori-teori tersebut saling berdekatan, mengisi, dan melengkapi. Oleh sebab itu, berbagai teori tersebut mempunyai kesamaan di dalam memberikan jawaban terhadap hakikat pendidikan ialah bahwa pendidikan tidak dapat dikucilkan dari proses pemanusiaan. Tidak ada suatu masyarakat pun yang dapat eksis tanpa pendidikan.

2 thoughts on “hakikat pendidikan

  1. Ping-balik: Makalah_Psikologi Perkembangan « SMPN 2 Rantau Selamat Kab. Aceh Timur

  2. Ping-balik: PERKEMBANGAN KEHIDUPAN PRIBADI | SMPN 2 Rantau Selamat Kabupaten Aceh Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s