BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sejarah adalah topik ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai: keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam sepanjang zaman.

Salah satu kutipan yang paling terkenal mengenai sejarah dan pentingnya kita belajar mengenai sejarah ditulis oleh seorang filsuf dari Spanyol, George Santayana. Katanya: “Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.”

Filsuf dari Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan dalam pemikirannya tentang sejarah: “Inilah yang diajarkan oleh sejarah dan pengalaman: bahwa manusia dan pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah atau prinsip-prinsip yang didapat darinya.” Kalimat ini diulang kembali oleh negarawan dari Inggris Raya, Winston Churchill, katanya: “Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya.”

Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar yang berpengaruh, pernah pula berkata “Sejarah akan baik padaku, karena aku akan menulisnya.” Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: “Sejarah ditulis oleh sang pemenang.” Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak sejarah — dan pemelesetan fakta sejarah — sesuai dengan apa yang mereka rasa benar.

Pandangan yang lain lagi menyatakan bahwa kekuatan sejarah sangatlah besar sehingga tidak mungkin dapat diubah oleh usaha manusia. Atau, walaupun mungkin ada yang dapat mengubah jalannya sejarah, orang-orang yang berkuasa biasanya terlalu dipusingkan oleh masalahnya sendiri sehingga gagal melihat gambaran secara keseluruhan.

Masih ada pandangan lain lagi yang menyatakan bahwa sejarah tidak pernah berulang, karena setiap kejadian sejarah adalah unik. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang menyebabkan berlangsungnya suatu kejadian sejarah; tidak mungkin seluruh faktor ini muncul dan terulang lagi. Maka, pengetahuan yang telah dimiliki mengenai suatu kejadian di masa lampau tidak dapat secara sempurna diterapkan untuk kejadian di masa sekarang. Tetapi banyak yang menganggap bahwa pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena pelajaran sejarah tetap dapat dan harus diambil dari setiap kejadian sejarah. Apabila sebuah kesimpulan umum dapat dengan seksama diambil dari kejadian ini, maka kesimpulan ini dapat menjadi pelajaran yang penting. Misalnya: kinerja respon darurat bencana alam dapat terus dan harus ditingkatkan; walaupun setiap kejadian bencana alam memang, dengan sendirinya, unik.

  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial juga memberikan gambaran dan penjelasan tentang hakikat dan konsep dalam sejarah serta tujuan pembelajaran sejarah itu sendiri.

  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam pembahasan tentang hakikat dan konsep sejarah adalah sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian, konsep dan ruang lingkup sejarah?
  2. Bagaimana karakteristik dan apa saja sumber-sumber sejarah?
  3. Apa saja metode kajian dan penelitian sejarah?
  4. Apa perbedaan sejarah dan prasejarah?
  5. Apakah periodisasi dan kronologi sejarah itu?
  6. Apa tujuan dan manfaat belajar sejarah?

 

BAB II

KONSEP KONSEP ILMU SEJARAH

  1. Pengertian, Konsep, dan Ruang Lingkup Sejarah

1.      Pengertian Sejarah

Dalam masyarakat awam sejarah sering diidentikan dengan nama tokoh, candi, tanggal, tahun dan tempat terjadinya peristiwa. Kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun, artinya pohon. Sebuah pohon terdiri dari akar, dahan, ranting dan daun sehingga sejarah diartikan sebagai asal usul, riwayat dan silsilah yang menyerupai sebuah pohon dalam bahasa arab ilmu yang mempelajari kisah masa lalu di kenal dengan istilah Tarikh.

Di Eropa, sejarah dikenal dengan istilah history (Inggris), histoire (Prancis), storia (Italia), semuanya berasal dari bahasa Yunani yaitu historia yang artinya orang pandai sementara dalam bahasa Belanda sejarah disebut dengan geschiedenis (terjadi), dalam bahasa Jerman disebut geschichate (sesuatu yang terjadi).

Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah). Sejarah menurut Moh. Yamin adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dibuktikan dengan kenyataan. Menurut R. Moh Ali, pengertian sejarah ada 3 yaitu:

a.       Sejarah adalah kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa seluruhnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

b.      Sejarah adalah cerita yang tersusun secara sistematis (serba teratur dan rapi).

c.       Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian pada masa lampau.

Patrick Gardiner berpendapat sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia. Sedangkan J.V Brice mengungkapkan sejarah adalah catatan-catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan dan diperbuat oleh manusia.

Pengertian sejarah berbeda dengan pengertian ilmu sejarah. Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lalu manusia sedangkan ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.

Umumnya sejarah atau ilmu sejarah diartikan sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah disebut sejarawan.

Dengan demikian sejarah dapat diartikan sebagai kejadian masa lampau dari kehidupan manusia. Akan tetapi tidak semua kejadian masa lampau dapat masuk kedalam ruang lingkup sejarah. Yang masuk kedalam sejarah adalah kejadian-kejadian yang mempunyai pengaruh besar pada masanya dan masa-masa berikutnya

Sejarah sebagai peristiwa

Sejarah sebagai peristiwa diartikan sebagai peristiwa masa lampau manusia yang benar-benar terjadi (histoire realita), sehingga hanya terjadi satu kali saja, yaitu pada saat kejadiannya sedang berlangsung, sehingga tidak mungkin terjadi lagi pada masa-masa selanjutnya.

Setiap peristiwa yang terjadi akan berbeda dengan peristiwa sebelumnya, kalaupun peristiwa nya sejenis, tetapi waktu dan tempat serta pelaku (actor) sejarahnya berbeda. Sering juga ada istilah sejarah berulang, sebetulnya yang berulang bukan peristiwanya tetapi gejala dari peristiwa itu yang berulang.

Sejarah sebagai kisah

Sejarah sebagai kisah (histoire reite), dapat diartikan sebagai rekontruksi peristiwa masa lampau oleh manusia masa kini melalui berbagai fakta dan fenafsiran. Sejarah sebagai kisah dapat kita baca dalam berbagai buku sejarah, majalah atau koran, atau pada saat guru menjelaskan materi sejarah.

Sejarah sebagai ilmu

Sejarah adalah peristiwa masa lampau manusia, maka ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa masa lampau manusia. Sejarah sebagai ilmu sama dengan ilmu-ilmu lainnya.

Sejarah sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. empiris: diperoleh melalui penemuan dan pengamatan yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada
  2. mempunyai obyek: sama seperti disiplin ilmu lain, sejarah mempunyai obyek:

a.       obyek material: manusia.

b.      obyek formal: aktivitas manusia yang pernah terjadi dalam suatu rentang waktu di masa lampau.

  1. teori: kaidah-kaidah pokok sebagai suatu ilmu, seperti teori Challenge and Respons, teori masuknya Hindu.
  2. metode: sejarah mempunyai cara tersendiri dalam penelitiannya maupun penulisanya.

Sejarah sebagai seni

Sejarah sebagai seni, yang dimaksud diantaranya ketika seorang sejarawan menuliskan kembali peristiwa masa lampau itu. Dalam penulisan sejarah (historiografi) seorang sejarawan memerlukan beberapa pemahaman seperti, layaknya seorang seniman, sebagai seni adalah sejarah yang disajikan secara naratif dan imajinatif dengan menonjolkan unsur-unsur cerita, kisah atau peran tetapi tetap berpijak pada fakta –fakta yang ada.

2.      Konsep dan Ruang Lingkup Sejarah

Sejarah sebagai ilmu, tentunya mempunyai keunikan tersendiri sehingga berbeda dengan ilmu-ilmu social lainnya. Konsep dalam ilmu sejarah meliputi: waktu (time), ruang (space), perubahan (change), aktivitas manusia (man), kesinambungan (continuity). Walaupun berbeda dengan disiplin ilmu sosial lainnya tetapi dalam perkembangannya peran dari ilmu–ilmu sosial dalam penulisan sejarah sangat di perlukan. Para sejarawan banyak meminjam teori atau konsep ilmu sosial , diantaranya :

  1. geografi: terkait erat dengan latar geografis, dimana peristiwa sejarah itu terjadi dengan kata lain geografi merupakan panggung sejarah.
  2. politik: membantu menyelaraskan data politik dan kejadian yang mempengaruhi pengalaman sejarah manusia.
  3. sosiologi: membantu menjelaskan aktivitas kolektif manusia di masa lampau, peristiwa sejarah yang merupakan hasil dari interaksi antar manusia sangat membutuhkan konsep-konsep sosiologi.
  4. antropologi: dapat membantu sejarah dalam mengkaji pola-pola perilaku, keyakinan, kebudayaan dalam suatu masyarakat.
  5. arkeologi: membantu sejarah dalam menemukan dan menganalisis sumber-sumber sejarah.
  6. ekonomi: usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di masa lampau dapat dijelaskan lebih rinci dengan meminjam konsep dari ilmu ekonomi.
  7. psikologi: banyak membantu sejarah dalam menjelaskan perilaku para tokoh aktor pelaku sejarah.

Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis, seperti H. G. Wells, Will dan Ariel Durant, menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan ahli sejarah memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing. Ada banyak cara untuk memilah informasi atau tema sejarah, misalnya:

  1. Berdasarkan kurun waktu (kronologis).
  2. Berdasarkan wilayah (geografis).
  3. Berdasarkan negara (nasional).
  4. Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis).
  5. Berdasarkan topik/pokok bahasan (topikal).

Dan masih banyak lain lagi pemilahan informasi sejarah.

  1. Karakteristik dan Sumber Sejarah

Karakteristik sejarah ada 3 orientasi, yaitu:

a)      Unik, artinya peristiwa sejarah hanya terjadi sekali, dan tidak mungkin terulang peristiwa yang sama untuk kedua kalinya.

b)      Penting, artinya peristiwa sejarah yang ditulis adalah peristiwa-peristiwa yang dianggap penting yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan manusia

c)      Abadi, artinya peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan akan selalu dikenang sepanjang masa

Sumber sejarah adalah semua yang menjadi pokok sejarah, yaitu segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud yang menjadi acuan bagi peneliti sejarah sejak zaman purba hingga sekarang. Sumber sejarah berdasarkan bentuknya terbagai menjadi :

a)      sumber tertulis (dokumen) meliputi: prasasti, kronik, babad, naskah, arsip, koran.

b)      sumber benda (artefak) meliputi: fosil, prasasti, candi, patung, stupa, nisan, senjata, bangunan (keratin, mesjid), peralatan hidup.

c)      sumber lisan yaitu: keterangan langsung dari saksi atau pelaku sejarah.

d)      sumber rekaman merupakan hasil rekaman dalam bentuk audio visual seperti: kaset dan video compact disc.

Berdasarkan sifatnya sumber-sumber sejarah terbagi menjadi :

a)      sumber primer: sumber-sumber sejarah yang asli dan berasal dari jamannya seperti prasati, kronik, piagam, bangunan (candi, keraton, mesjid), nisan.

b)      sumber sekunder: sumber sejarah yang berasal dari sumber kepustakaan kuno (babad, naskah, karya sastra) atau berupa sumber tiruan dari benda aslinya misalnya prasasti tiruan (tinulad), terjemahan kitab kuno.

c)      sumber tersier: merupakan sumber yang berupa buku-buku sejarah yang telah disusun di mana si pengarang tidak melakukan penelitian langsung. Tetapi berdasarkan kepada hasil penelitian ahli sejarah (para sejarawan).

Sejarah tidak dapat dipisahkan dari fakta, sejarah tanpa fakta hanya akan menjadi sebuah dongeng. Fakta adalah sumber sejarah yang telah terseleksi melalui proses kritik. Fakta kemudian direkontruksi dan dijadikan dasar untuk mengisahkan sejarah. Fakta sejarah mempunyai beberapa bentuk yaitu :

a.       artifact (fakta yang berupa benda konkrit ): fosil, patung, candi, dll.

b.      manifact (fakta yang bersifat abstrak ): keyakinan dan kepercayaan.

c.       sosio-fact: fakta yang berdimensi sosial seperti jaringan interaksi antar manusia.

Fakta sejarah ada yang bersifat lunak artinya masih potensial untuk diperdebatkan, misalnya mengenai letak ibukota kerajaan Sriwijaya, ibukota kerajaan Trauma, kerajaan Hindu di Jawa Barat, dan lain-lain yang sampai sekarang masih banyak yang beda pendapat. Sedangkan fakta sejarah yang bersifat keras adalah fakta yang telah menjuadi consensus (kesepakatan) umum, misalnya mengenai Soekarno-Hatta sebagai tokoh proklamator, semua berpendapat sama.

  1. Metode Kajian dan Penelitian Sejarah

Ahli-ahli sejarah terkemuka yang membantu mengembangkan metode kajian sejarah antara lain: Leopold von Ranke, Lewis Bernstein Namier, Geoffrey Rudolf Elton, G. M. Trevelyan, dan A. J. P. Taylor. Ahli sejarah dari Perancis memperkenalkan metode sejarah kuantitatif. Metode ini menggunakan sejumlah besar data dan informasi untuk menelusuri kehidupan orang-orang dalam sejarah.

Ahli sejarah dari Amerika, terutama mereka yang terilhami zaman gerakan hak asasi dan sipil, berusaha untuk lebih mengikutsertakan kelompok-kelompok etnis, suku, ras, serta kelompok sosial dan ekonomi dalam kajian sejarahnya.

Tahapan metode penelitian sejarah:

1.      Heuristik: berasal dari bahasa Yunani, heursken (menemukan), dalam penelitian sejarah, heuristic berarti langkah-langkah untuk mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah. Untuk mendapatkan sumber tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari dokumen, mengunjungi situs sejarah, mengujungi museum dan perpustakaan, wawancara pelaku atau saksi sejarah.

2.      Kritik: berbagai sumber sejarah yang telah dikumpulkan belum tentu semuanya dapat diterima, langkah berikutnya adalah menyeleksi atau menguji kebenaran dari sumber-sumber tesebut, langkah itu dinamakan kritik. Kritik terbagi atas kritik intern dan ekstern.

a.       Kritik ekstern adalah langkah untuk menyeleksi apakah sumber sejarah (seperti prasasti, dokumen, dll) apakah asli atau palsu. Kritik ekstern (kritik terhadap keaslian sumber sejarah ) di antaranya dapat dilakukan dengan berdasarkan kepada: tipologi (menentukan usia berdasarkan type dari benda budaya), stratifikasi (menentukan umur relative suatu benda berdasarkan pada lapisan tanah dimana benda budaya tersebut ditemukan ), kimiawi (menentukan ketuaan benda berdasarkan pada unsur kimia yang terkandung).

b.      Kritik intern adalah langkah penyeleksian terhadap isi (materi) dari sumber sejarah (seperti: isi prasasti, isi naskah/dokumen, dll) atau langkah terhadap validitas isi (materi) sumber sejarah. Misalnya sebuah kitab kuno baru dapat di percaya kebenarannya apabila ada keterangan dari prasasti, catatan sejarah yang mendukungnya. Sumber sejarah yang telah terseleksi melalui kritik itulah di sebut dengan fakta.

3.      Interpretasi: berbagai fakta sejarah yang telah didapatkan kemudian dirangkai sehingga mempunyai bentuk dan setruktur untuk direkrontruksi. Dalam proses inilah di perlukan interpretasi, yaitu penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah. Dalam menafsirkan suatu fakta mutlak diperlukan landasan interpretasi agar tidak terjadi penafsiran yang tanpa dasar.

Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan suatu fakta di antaranya karena adanya beberapa perbedaan seperti: ideologi, kepentingan, tujuan, penulisan dan sudut pandang.

4.      Historiografi: merupakan langkah terakhir yaitu proses penulisan dan penyusunan kisah masa lampau yang direkrontruksi berdasarkan pada fakta yang telah diberi penafsiran peristiwa sejarah yang dikisahkan melalui historiografi akan sangat dipengaruhi oleh subyektifitas si penulis dalam merekontruksinya.

Dalam penulisan sejarah perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasanya sehingga orang tertarik untuk membacanya. Dengan demikian penulisan sejarah mempunyai unsur yang sama dengan penulisan sastra yaitu sama-sama menyajikan suatu kisah, bedanya dalam sejarah.

  1. Sejarah dan Prasejarah

Dulu, penelitian tentang sejarah terbatas pada penelitian atas catatan tertulis atau sejarah yang diceritakan. Akan tetapi, seiring dengan peningkatan jumlah akademik profesional serta pembentukan cabang ilmu pengetahuan yang baru sekitar abad ke-19 dan 20, terdapat pula informasi sejarah baru. Arkeologi, antropologi, dan cabang-cabang ilmu sosial lainnya terus memberikan informasi yang baru, serta menawarkan teori-teori baru tentang sejarah manusia. Banyak ahli sejarah yang bertanya: apakah cabang-cabang ilmu pengetahuan ini termasuk dalam ilmu sejarah, karena penelitian yang dilakukan tidak semata-mata atas catatan tertulis? Sebuah istilah baru, yaitu nirleka, dikemukakan istilah “pra-sejarah” digunakan untuk mengelompokkan cabang ilmu pengetahuan yang meneliti periode sebelum ditemukannya catatan sejarah tertulis.

Pada abad ke-20, pemisahan antara sejarah dan prasejarah mempersulit penelitian. Ahli sejarah waktu itu mencoba meneliti lebih dar sekadar narasi sejarah politik yang biasa mereka gunakan. Mereka mencoba meneliti menggunakan pendekatan baru, seperti pendekatan sejarah ekonomi, sosial, dan budaya. Semuanya membutuhkan bermacam-macam sumber. Di samping itu, ahli pra-sejarah seperti Vere Gordon Childe menggunakan arkeologi untuk menjelaskan banyak kejadian-kejadian penting di tempat-tempat yang biasanya termasuk dalam lingkup sejarah (dan bukan pra-sejarah murni). Pemisahan seperti ini juga dikritik karena mengesampingkan beberapa peradaban, seperti yang ditemukan di Afrika Sub-Sahara dan di Amerika sebelum kedatangan Columbus.

Akhirnya, secara perlahan-lahan selama beberapa dekade belakangan ini, pemisahan antara sejarah dan prasejarah sebagian besar telah dihilangkan.

Sekarang, tidak ada yang tahu pasti kapan sejarah dimulai. Secara umum sejarah diketahui sebagai ilmu yang mempelajari apa saja yang diketahui tentang masa lalu umat manusia (walau sudah hampir tidak ada pemisahan antara sejarah dan prasejarah, ada bidang ilmu pengetahuan baru yang dikenal dengan Sejarah Besar). Kini sumber-sumber apa saja yang dapat digunakan untuk mengetahui tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau (misalnya: sejarah penceritaan, linguistik, genetika, dan lain-lain), diterima sebagai sumber yang sah oleh kebanyakan ahli sejarah.

  1. Periodisasi dan Kronologi Sejarah

Sejarah memiliki dua dimensi yaitu dimensi spasial (ruang) dan dimensi temporal (waktu). Konsep waktu dalam sejarah meliputi waktu atau tempo (time) yaitu proses kelangsungan suatu peristiwa dan waktu merupakan kesatuan dari kelangsungan tiga dimensi yaitu masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.

Pengertian periodisasi sejarah berkaitan erat dengan pembagian masa lampau manusia berdasarkan urutan waktu (Periodisasi = Pembabakan waktu).

Pentingnya periodisasi dalam sejarah yaitu:

1.      Memudahkan sistematika penulisan sejarah

2.      Merupakan rangkuman dari suatu peristiwa menurut seorang sejarawan.

3.      Memudahkan pembaca dalam memahami suatu peristiwa sejarah

4.      Merupakan penghubung dari fakta-fakta sejarah.

Secara umum, periodisasi sejarah Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa zaman, yaitu:

1.      prasejarah (zaman batu dan zaman logam).

2.      masuk dan berkembangnya pengaruh budaya India.

3.      masuk dan berkembangnya Islam.

4.      zaman kolonial.

5.      zaman pendudukan Jepang.

6.      masa orde lama.

7.      masa orde baru.

8.      masa reformasi.

Kronologi adalah usaha yang dilakukan untuk mendapatkan pemahaman mengenai pengertian suatu peristiwa sejarah secara gamblang yang dapat mengkaitkan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain secara logis.

Karena kompleksnya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia pada setiap kurun waktu, maka peristiwa–peristiawa tersebut terlebih dahulu harus dikelompokan berdasarkan bentuk atau jenis tertentu (periodisasi). Setelah itu barulah disusun secara kronologis (berdasarkan urutan waktu kejadian).

Tujuan dibuatnya kronologi dalam sejarah adalah agar penyusunan berbagai peristiwa sejarah dalam periodisasi tertentu tidak tumpang tindih atau rancu dengan metode lainnya. Kronologi sejarah berarti sesuai dengan urutan waktu kejadian dari peristiwa sejarah tersebut, sehingga tidak berlangsung secara loncat-loncat. Walaupun demikian susunan kejadian berdasarkan urutan waktu tersebut harus tetap berkisinambungan dan menunjukkan kausalitas (sebab-akibat). Penyusunan peristiwa berdasarkan urutan waktu tanpa adanya hubungan sebab akibat dinamakan kronik, bukan sebagai sejarah

  1. Tujuan dan Manfaat Belajar Sejarah

Dapat ditegaskan bahwa tujuan pelajaran sejarah ialah memperkenalkan pelajar kepada riwayat perjuangan manusia untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam arti bahagia, adil dan makmur.

Tujuan pelajaran sejarah nasional adalah:

  1. membangkitkan, mengembangkan serta memelihara semangat kebebasan.
  2. mengembangkan hasrat mempelajari sejarah kebangasaan dan mempelajarinya sebagai bagian dari sejarah dunia.
  3. menyadarkan anak tentang cita-cita nasional (Pancasila, UUD 1945, dan UU Pendidikan), serta perjuangan tersebut untuk mewujudkan cita-cita itu sepanjang masa.

Manfaat belajar sejarah adalah:

  1. Sejarah sebagai Pelajaran.

Pengalaman adalah guru yang paling baik, manusia banyak belajar dari pengalaman hidupnya, baik pengalaman dirinya maupun dari pengalaman orang lain atau generasi sebelumnya. Pengalaman merupakan peristiwa masa lalu, dan dari peristiwa itulah kita dapat mengambil hikmahnya (pelajaran). Sebagai contoh kemajemukan masyarakat Indonesia pada masa lalu dimanfaatkan oleh penjajah untuk melakukan devide et impera, dan berhasil, akibatnya bangsa Indonesia dijajah sampai ratusan tahun lamanya.

Peristiwa masa lalu tersebut memberikan pelajaran kepada generasi sekarang, sehingga generasi sekarang harus mampu memandang kemajemukan bukan sebagai hal negatif, tetapi harus disikapi secara positif.

  1. Sejarah sebagai Inspirasi

Berbagai peristiwa masa lalu dapat memeberikan inspirasi (ilham) pada generasi berikutnya. Masa sekarang dan yang akan datang tidak akan terlepas dari masa lalu karena waktu merupakan merupakan sebuah garis linier. Tidak ada suatu peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, tidak ada peristiwa masa kini yang terputus dari peristiwa masa lampau. Dengan memahami masa lalu manusia dapat menarik benang merahnya dengan masa kini. Contoh sesorang menjadi anggota TNI setelah terinspirasi oleh kepahlawanan Jendral Sudirman

  1. Sejarah sebagai Rekreasi

Setiap sejarah selalu bersamaan dengan kebudayaannya, sehingga ketika membicarakan sejarah sering dikaitkan dengan benda peninggalan masa lampau seperti candi, keraton, patung dan benda budaya lainnya. Orang mengunjungi keraton, candi atau museum sebetulnya orang tersebut telah menjadikan sejarah dengan fungsi (kegunan) rekreatif (hiburan).

Banyak buku-buku sejarah yang ditulis, termasuk di dalamnya biografi ataupun auto-biografi, semua itu merupakan sejarah sebagai kisah. Ketika orang membaca kemudian menjadi senang dan tertarik karena tulisan dan gaya bahasanya yang komunikatif. Sehingga pembaca dapat berimajinasi dengan isi bacaan buku-buku sejarah tersebut, maka sejarah mempunyai guna rekreatif (hiburan ) seperti layaknya orang membaca sebuah buku novel.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Sejarah dapat diartikan sebagai kejadian masa lampau dari kehidupan manusia. Konsep dalam ilmu sejarah meliputi : waktu (time), ruang (space), perubahan (change), aktivitas manusia (man), kesinambungan (continuity).

Ada banyak cara untuk memilah informasi atau tema sejarah, misalnya: berdasarkan kurun waktu (kronologis), berdasarkan wilayah (geografis), berdasarkan negara (nasional), berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis), dan berdasarkan topik/pokok bahasan (topikal).

Karakteristik sejarah yaitu unik, penting, dan abadi. sumber-sumber berdasarkan bentuknya, sumber sejarah terbagai menjadi sumber tertulis (dokumen), sumber benda (artefak) sumber lisan, sumber rekaman.

Berdasarkan sifatnya sumber-sumber sejarah terbagi menjadi sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier.

Sejarah tidak dapat dipisahkan dari fakta , sejarah tanpa fakta hanya akan menjadi sebuah dongeng. Fakta adalah sumber sejarah yang telah terseleksi melalui proses kritik. Fakta kemudian direkontruksi dan dijadikan dasar untuk mengisahkan sejarah. Fakta sejarah mempunyai beberapa bentuk yaitu, artifact (fakta yang berupa benda konkrit ), manifact (fakta yang bersifat abstrak ), dan sosio-fact: fakta yang berdimensi sosial seperti jaringan interaksi antar manusia.

Karena kompleksnya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia pada setiap kurun waktu, maka peristiwa–peristiawa tersebut terlebih dahulu harus dikelompokan berdasarkan bentuk atau jenis tertentu (periodisasi). Setelah itu barulah disusun secara kronologis (berdasarkan urutan waktu kejadian).

Dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, ilmu sejarah memiliki guna edukatif (memberi pendidikan), guna rekreatif (memberi kesenangan), guna inspiratif (memberi inspirasi), dan guna instruktif (memberi pengajaran).

  1. Saran

Diharapkan agar ilmu sejarah dapat berkembang dan akan lebih banyak orang, khususnya pelajar, yang menyukai sejarah. Dan supaya belajar dapat mengetahui dan memaknai dariperistiwa-peristiwa pada masa lampau serta dapat dijadikan pemikiran dalam suatu tindakan yang akan dilakukan. Kesempatan tidak akan datang berkali-kali dan sejarah tidak akan terulang.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, R. Moh. 1961. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Jakarta : Bharatara.

Ali, R. Moh. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta : LKIS.

Berg,  Van Den. 1945. Dari Panggung Peristiwa Sejarah. Jakarta : Walter Gronigen.

Irawan, Ade Didik. 2008. Hakikat dan Ruang Lingkup Ilmu Sejarah. http://sejarahundonesiamerdeka.blogspot.com. Tanggal akses 20 Maret 2009.

Opick. 2009. Karakteristik Sejarah. http://opick-taopik.blogspot.com. Tanggal akses 20 maret 2009.

Soenarti, dkk. 1987. Sejarah Nasional dan Dunia. Jakarta : Triratna.

Sucipto, Ardi. 2008. Implementasi Filsafat Sejarah dan Metodologi Sejarah. http://suciptoardi.wordpress.com. Tanggal akses 20 Maret 2009.

Wahyu. 1996. Pengantar Ilmu Ilmu Sosial. Banjarmasin : Lambung Mangkurat University Press.

Wardaya. 2004. Hakikat dan Ruang Lingkup Sejarah. Surabaya : Widya Utama.

Wikipedia. 2009. Sejarah. http://id.wikipedia.org. Tanggal Akses 20 Maret 2009.

2 thoughts on “

  1. Excellent writing. Neng sy mhs s3 UPI Bdg, bolehkah sy copy buku Soenarti, dkk. 1987. Sejarah Nasional dan Dunia. Jakarta : Triratna. Mohon tanggapan diemailkan. Nuhun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s