MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL

Standar

MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL

 

A. INDIVIDU DAN MASYARAKAT

1. Manusia sebagai Makhluk Individu

Dalam bahasa Latin individu berasal dari kata individuum, artinya yang tak terbagi. Dalam bahasa Inggris individu berasal dari kata in dan divided. Kata in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi, individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya.

Setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama.

Seorang individu adalah perpaduan antara faktor genotipe dan fenotipe. Faktor genotipe adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan dibawa individu sejak lahir. Faktor fenotipe merupakan faktor lingkungan.

Karakteristik yang khas dari seseorang disebut dengan kepribadian. Menurut Nursyid Sumaatmadja kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi biopsikofisikal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan.

 

2. Manusia sebagai Makhluk Sosial

Selama manusia hidup ia tidak akan pernah lepas dari pengaruh masyarakat. Di rumah, di sekolah, di lingkungan yang lebih besar manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Oleh karena itu manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain.

Manusia dikatakan makhluk sosial juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk bersosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari kawan atau teman. Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasari atas kesamaan cirri atau kepentingannya masing-masing. Misalnya, orang kaya cenderung berteman lagi dengan orang kaya. Orang yang berprofesi sebagai artis, cenderung untuk berteman dengan sesame artis lagi. Dengan demikian, akan terbentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat yang didasari olehnkesamaan cirri atau kepentingan.

Manusia dikatakan juga sebagai makhluk sosial, karena manusia tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.

Cooley member nama looking-glass self untuk melihat bahwa seseorang dipengaruhi oleh orang lain. Cooley berpendapat bahwa looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Pada tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap berikut seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu.

Salah satu teori perana dikaitkan dengan sosialisasi oleh teori George Herbert Mead. Dalam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972), Mead menguraikan tahap-tahap perkembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Menurutnya pengembangan diri manusia ini berlangsung melalui beberapa tahap, yaitu play stage, game stage, dan generalized other.

Prasangka (prejudice) merupakan suatu istilah yang mempunyai makna. Namun dalam kaitannya dengan hubungan antarkelompok istilah ini mengacu pada sikap permusuhan yang ditujukan kepada suatu kelompok tetentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai cirri-ciri yang tidak menyenangkan. Sikap ini dinamakan prasangka, sebab dugaan yang dianut orang yang berprasangka tidak didasarkan atas pengetahuan, pengalaman, maupun bukti-bukti yang cukup memadai.

Dapat disimpulkan bahwa mausia dikatakan sebagai makhluk sosial karena beberapa alasan, yaitu:

1.      Mausia tunduk pada aturan, norma sosial.

2.      Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.

3.      Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain.

4.      Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

 

3. Manusia sebagai Makhluk yang Berhubungan dengan Lingkungan Hidup

Berkenaan dengan hubungan antara manusia dengan alam paling tidak ada tiga paham, yaitu paham determinisme, paham posibilisme, dan paham optimisme teknologi.

Determinisme alam menempatkan manusia sebagai makhluk yang tunduk pada alam, alam sebagai faktor yang menentukan. Orang-orang yang dapat dipandang sebagai tokoh paham determinisme antara lain Charles Darwin, Friederich Ratzel, dan Elsworth Huntingtong.

Menurut Charles Darwin (1809-1882), dalam teori evolusinya, bahwa makhluk hidup secara berkesinambungan dari waktu ke waktu mengalami perkembangan. Pada perkembangan tersebut terjadi perjuangan hidup (struggle for life, struggle for existence), seleksi alam (nature selection), dan yang kuat akan bertahan hidup (survival of the fittest). Dalam proses perkembangan kehidupan tadi, faktor alam sangan menentukan.

Ratzel melihat bahwa populasi manusia dengan perkembangan kebudayaannya ditentukan oleh kondisi alam.

Huntington berpandangan bahwa iklim sangat menentukan perkembangan kebudayaan manusia.

Alam lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tidak lagi dipandang sebagai faktor yang menentukan. Manusia dengan kemampuan budayanya dapat memilih kegiatan yang cocok sesuai denga kemungkinan dan peluang yang diberikan oleh alam lingkungannya.

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menjadi dasar pesatnya kemajuan teknologi. Kemajuan dan penerapan teknologi telah membawa kemajuan pemanfaatan sumber daya alam bagi kepentinga pembangunan yang menjadi penopang kesejahteraan umat manusia. Atas dasar hal tersebut muncul motto “ teknologi merupakan tulang punggung pembangunan”.

 

B. PENGERTIAN MASYARAKAT DAN CIRI-CIRINYA

Istilah masyarakat dalam bahasA Inggrisnya society, sedangkan istilah komunitas dalam bahasa Inggrisnya community. Dalam konteks kesehariannya, sering kali terjadi kesalahan pemahaman antara society dan community. Dua istilah (konsep) tesebut sering ditafsirkan secara sama, padahal sangat berbeda artinya. Society atau masyarakat berbeda dengan community atau masyarakat setempat.

Kalau kita rumuskan, masyarakat adalah kumpulan orang yang di dalamnya hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Jadi bukan hanya kumpulan atau kerumunan orang dalam waktu sesaat, seperti kerumuna orang di terminal, di pasar, atau di lapangan sepak bola. Dalam kebersamaan yang lama terjadi interkasi sosial. Selanjutnya, orang-prang yang membentuk masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa mereka merupakan satu kesatuan. Masyarakat merupakan suatu sistem hidup bersama, di mana mereka menciptakan nilai, norma, dan kebudayaan bagi kehidupan mereka.

 

1. Pengertian Masyarakat Setempat (Community) atau Komunitas dan Ciri-Cirinya

Community (masyarakat setempat) atau komunitas merupakan bagian kelompok dari masyarakat (society) dalam lingkup yang lebih kecil, serta mereka lebih terikat oleh tempat (teritorial).

Menurut Prof. Soerjono Soekanto, istilah Community dapat diterjemahkan sebagai “masyarakat setempat” istilah di mana menunjuk pada warga-warga sebuah desa, sebuah kota, suku atau suatu bangsa.

Masyarakat setempat menunujuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu, di mana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interkasi yang lebih besar di antara anggota-anggotanya, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk di luar batas wilayahnya.

Dapat disimpulakn bahwa masyarakat setempat (community) adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu. Dasr-dasar dari masyarakat setempat adalah lokalitas dan perasaan masyarakat setempat.

Jadi, unsur pertama dari komunitas adalah wilayah atau lokalitas. Unsur kedua adalah perasaan saling ketergantungan atau saling membutuhkan.

 

C. MASYARAKAT DESA DAN KOTA

Sebuah desa sering kali ditandai dengan kehidupan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian, penduduknya ramah-tamah, saling mengenal satu sama lain, meta pencaharian penduduknya kebanyakan sebagai petani atau nelayan. Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan orang desa.

Sebuah kota sering kali ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayahnya yang luas, banyak penduduknya, hubungan yang tidak erta satu sama lain, dan mata pencaharian penduduknya bermacam-macam.

Menurut Soerjono Soekanto, masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang berbeda. Khususnya perhatian terhadap keperluan hidup. Di desa yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadap keperluan pokok, fungsi-fungsi lainnya diabaikan. Lain denga orang kota, mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyarakat sekitarnya sangat mereka perhatikan.

Pe,bagian kerja (divisison of labour) pada masyarakat jota sudah sangat terspesialisasi. Begitu pula profesi pekerjaan sudah sangat banyak macamnya (heterogen). Dari sudut keahlian (spesialisasi), seseorang mendalami pada satu jenis keahlian yang semakin spesifik.

Ada saling ketergantungan yang tinggi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya karena perbedaan pekerjaannya. Satu jenis pekerjaan dengan pekerjaan lainnya ada saling ketergantungan. Saling ketergantungan anggota masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya yang disebabkan karena perbedaan pekerjaan (heterogenitas pekerjaan) menurut Emile Durkheim disebut dengan solidaritas organis (organic solidarity).

Kehidupan orang di desa yang memiliki jenis pekerjaan yang sama (homogen) sangat menggantungkan pekerjaannya kepada keluarga lainnya. Saling ketergantungan pada masyarakat yang disebabkan oleh karena adanya persamaan dalam bidang pekerjaan oleh Emile Durkheim disebut dengan solidaritas mekanis (mechanic solidarity).

Ferdinand Tonnies mengemukakan pembagian masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainschaft dan geselschaft. Masyarak gemainschaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat di mana anggotanya sangat terikat secara emosional dengan yang lainnya. Sedangkan masyarakat geselschaft atau patembeyan ikatan-ikatan di antara anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional. Paguyuban cenderung sebagai refleksi masyarakat desa, sedangkan patembeyan refleksi masyarakat kota.

 

D. INTERAKSI SOSIAL DAN PELAPISAN SOSIAL

1. Interaksi Sosial

Ada bebrapa pengertian interaksi sosial yang ada di lingkungan masyarakat, di antaranya:

v   Menurut H. Booner dalam bukunya Social Psychology, memberikan rumusan tentang interaksi sosail, bahwa: “interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.”

v   Menurut Gillin and Gillin (1954) yang menyatakan interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual, antarkelompok orang, dan orang perorangan dengan kelompok.

v   Interaksi sosial merupakan hubungan timbale balik antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, antara kelompok dengan individu.

 

a. Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan

Adapun faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interkasi sosial, yaitu:

1)    Faktor Imitasi

Faktor imitasi mempunyai peranan sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat membawa seseorang mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku.

2)    Faktor Sugesti

Yang dimaksud sugesti di sini adalah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya senidri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Dalam psikologi, sugesti dibedakan menjadi:

  • Autosugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri yang datang dari dirinya sendiri.
  • Heterosugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain

Dalam ilmu jiwa sosial, sugesti dapat dirumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa dikritik terlebih dahulu.

3)    Faktor Identifikasi

Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah amupun batiniah.

4)    Faktor Simpati

Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain.

b. Syarat-Syarat Terjadinya Interkasi Sosial

Untuk terjadinya suatu interaksi sosial diperlikan adanya sayarat-syarat yang harus ada, yaitu:

1)    Adanya Kontak Sosial

Kata kontak berasal dari bahasa Latin “con” yang artinya bersama-sama dan “tanga” yang berarti menyentuh. Jadi, secara harfiah kontak berarti “bersama-sama menyentuh”. Sebagai gejala sosial, kontak tidak perlu terjadi dengan menyentuh saja, oleh karena ittu orang dapat mengadakan hubungan dengan orang lain tanpa harus terjadi kontak secara fisik. Misalnya, orang berbicara melalui telepon, berkirim kabar melalui surat, dan sebagainya.

2)    Adanya Komunikasi

Komunikasi adalah proses menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak lain sehingga terjadi pengertian bersama. Dalam komunikasi terdapat dua pihak yang terlibat, pihak yang menyampaikan pesan disebut komunikator dan pihak penerima pesan disebut komunikasi.

Selain itu kontak sosial dapat terjadi dan berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu:

(a)  Antara orang perorangan.

(b) Antara orang perorangan dengan suatu kelompok atau sebaliknya.

(c)  Antara kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.

 

c. Bentuk-Bentuk Interkasi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan pertentangan (conflict).

Gillin and Gillin membagi dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibatnya adanya interkasi sosial, yaitu:

(a)  Proses Asosiatif, terbagi dalam tiga bentuk khusus yaitu akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

(b) Proses Disosiatif, mencakup persaingan yang meliputi “contravention” dan pertentangan pertikaian.

Adapun interaksi yang pokok-pokok proses adalah:

1) BENTUK INTERAKSI ASOSIATIF

Kerja Sama (Cooperation)

Kerja sama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknnya dan kelompok lainnya. Ada tiga bentuk kerja sama, yaitu:

v   Bargaining, pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.

v   Cooperation, proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.

v   Coalition, kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama.

Akomodasi (Accommodation)

Bentuk-bentuk akomodasi, di antaranya:

v   Coercion, suatu bentuk akomdasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan.

v   Compromise, suatu bentuk akomodasi, di mana pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya, agar tecapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

v   Arbitration, suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak yang berhadap tidak sanggup untuk mencapainya sendirian.

v   Mediation, hampir menyerupai arbitration diundang pihak ketiga yang netral dalam persoalan perselisihan yang ada.

v   Conciliation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih, bagi tercapainya suatu persetujuan bersama.

v   Tolerantion, bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formil bentuknya.

v   Stelemate, merupakan suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang berkepentingan kepentingan yang seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.

v   Adjudication, yaitu perselisihan perkara atau sengketa di pengadilan.

 

2) BENTUK INTERAKSI DISOSIATIF

Persaingan (Competition)

Persaingan asalah bentuk interaksi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bersaing untuk mendapatkan keuntungan tertentu bagi dirinya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan kekerasan.

Kontravensi (Contravention)

Kontravensu ditandai dengan adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan yang tidak suka disembunyikan dan kebencian terhadap kepribadian orang, akan tetpai gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.

Pertentangan (Conflict)

Pertentangan adalah suatu bentuk interaksi indibidu atau kelompok sosial yang berusaha untuk mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan.

Pertentangan memilik bentuk-bentuk yang khusus, antara lain:

v   Pertentangan pribadi, pertentangan antar-individu.

v   Pertentangan rasional, pertentangan yang timbul karena perbedaan ras.

v   Pertentangan kelas sosial, pertentangan yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan antara kelas sosial.

v   Pertentangan politik, biasanya terjadi di antara partai-partai politik untuk memperoleh kekuasaan negara.

 

E. STRATIFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Berkaitan dengan penempatan individu dalam kelompok sosial, amka individu memiliki kemampuan untuk:

1)    Menempatkan diri, dan

2)    Ditempatkan orang lain dalam suatu lapisan sosial ekonomi tertentu.

Dalam kaitannya dengan stratigikasi sosial, Max Webber menjelaskan stratifikasi sosial dalam tiga dimensi, yaitu:

1)    Dimensi kekayaan.

2)    Dimensi kekuasaan.

3)    Dimensi prestise.

Lebih jauh, Max Webber dalam “Class, Status, Party” menjelaskan bahwa sesuatu disebut kelas apabila:

1)    Sejumlah orang sama-sama memiliki suatu komponen tertentu yang merupakan sumber dalam kesempatan hidup (life chance) mereka.

2)    Komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa pemilikan benda-benda dan kesempatan untuk memperoleh pendapatan.

3)    Hal itu terlihat dalam kondisi komoditas atau pasar tenaga kerja.

Ketiga kondisi ini disebutt dengan situasi kelas. Apabila sekelompok orang berada di dalam kondisi kelas yang sama, maka dinamakan kelas.

Berbeda dengan kelas, kelompok status merupakan komunitas. Situasi status adalah setiap komponen tipikal dari kehidupan (nasib) manusia (life fate of man) yang ditentukan oleh penilaian sosial, baik positif, negatif, atau yang khusus terhadap kehormatan (honor).

Menurut Melvin Tumin dalam “Consequences of Ratification Life Styles”, gaya hidup (Life Styles) dan peluang hidup (Life Chance) merupakan konsekuensi dari stratifikasi sosial.

Istilah gaya hidup menunjuk kepada perbedaan karakteristik dari sekelompok status (status group), di mana keanggotaan dalam kelompok status di dasarkan pada tingkat kehormatan yang dapat diperbandingkan.

Sedangkan peluang hidup (life chance) ditandai oleh perbedaan kelas ekonomi yang keanggotaannya ditandai oleh peranan individu dalam produksi.

Tumin mengaju studi terhadap gaya hidup dari dua pendekatan atau dari dua arahan yang berbeda, yaitu:

1)    Dengan empertanyakan gaya hidup dari mereka yang memiliki posisi sosio-ekonomi yang sama, atau

2)    Ciri-ciri sosio-ekonomi yang bagaimana dari mereka yang memilik gaya hidup yang sama. Studi gaya hidup  akan  tetap  relevan  dalam  lapangan

sosiologi, karena lewat studi ini dapat digunakan sebagai:

(a)      Indikator untuk menentukan di mana tingkat seseorang berada, misalnya, dari tempat tinggalnya dan tipe rumah yang di tempatinya.

(b)     Sebagai penghargaan atas konsekuensi dari adanya ketidaksamaan dengan yang lain.

(c)      Sebagai teknik untuk menetapkan keabsahan tingkat kehormatan seseorang mencari bentik atau cara untuk pengabsahan bahwa dia telah berada pada level atau status yang baru.

Nas dan Sande berusaha membuat suatu pengelompokkan dimensi gaya hhidup dalam lima kelompok, yaitu:

1)    Dimensi Morfologis

Beberapa atau sekelompok orang lebih terikat pada tempat tertentu disbanding tempat yang lainnya, dari mulai lingkungan yang tradisional samapai kota yang cosmopolitan.

2)    Hubungan Sosial dan Jaringan Kerja

Dimensi ini dibedakan atas tiga bidang, yaitu:

(a)      Pengkapsulan: keterikatan pada lingkungan, suku, etnis, keeratan di berbagai bidang.

(b)     Segregasi: tidak menekankan pada satu kegiatan saja, tetapi pada beberapa kegiatan tanpa ada keterikatan yang akrab atau emosional.

(c)      Isolasi: tanpa ada keterikatan yang mendalam pada bidang apapun.

3)    Penekanan Bidang Kehidupan (Domain)

Seseorang dapat menekankan kehidupannya pada suatu bidang tertentu yang menjadi prioritasnya.

4)    Makna Gaya Hidup (Wordview)

Penilaian atau pemaknaan terhadap bidang-bidang kehidupan.

5)    Dimensi Simbolik (Style)

Gimensi-dimensi gaya hidup dibentuk dalam rangka menjalin hubungan sosial dengan individu atau kelompok lain.

Robert K. Merton dan Allice Kitt Rossi mengemukakan bahwa adanya kelompok-kelompok sosial dalam stratifikasi karena adanya hubungan antara:

(a)  Kesesuaian penilaian seseorang yang berada pada kelompok tersebut denga orang yang berada pada kelompok yang sama terhadap sesuatu yang penting bagi kelangsungan sistem yang mereka kembangkan.

(b) Atau juga masalah kesesuaian individu terhadap penilaian yang diberikan antara orang yang berda pada kelompok yang berbeda.

Individu yang berada pada stratifikasi bahwa akan meniru gaya hidup yang dikembangkan kelompok stratifikasi sosial atasnya. Keberhasilan peniruan ini tergantung kepada:

v       Kemampuan orang yang meniru, karena tidak semua gaya hidup dapat ditiru.

v       Penerimaan kelompok luar yang dijadikan kelompok acuan.

v       Dalam posisi individu sudah keluar dari keanggotaan suatu kelompok dan belum diterima sebagai anggota kelompok yang diacu, maka ia berada pada posisi pinggiran atau marginal man.

Seorang individu yang berhubungan sosial dengan kelompoknya sudah pudar, ia mengorientasikan dirinya pada kelompok lain, maka ia harus mencari acuan dari normadan kebiasaan yang berkembang pada individu atau anggota kelompok baru tersebut. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan, atau yang ia hadapi, yaitu:

Pertama : Apabila ia dapat mengklasifikasikan dirinya dengan kelompok acuan dengan baik, ia akan berhasil.

Kedua : Apabila kemungkinan di atas tidak terjadi (kurang mampu atau struktur kelompoknya ketat), maka ia akan kehilangan akar sosialnya (sociality rootless).

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s