ASAL MULA KEHIDUPAN

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Setiap kali orang mempelajari terjadinya kehidupan di Bumi ini, selalu bermula dari problema mengenai dari mana datangnya hidup, dari mana asalnya dan bagaimanakah terjadinya hidup ini.

Nampaknya rasa ingin tahu manusia terhadap “datangnya” hidup ini telah timbul berabad-abad bahkan lebih dari dua ribu tahun yang lalu dan hingga saat ini pun orang masih bertanya-tanya tentang asal-usul kehidupan. Boleh dikatakan bahwa tak seorang pun tahu dari mana asal kehidupan di Bumi, sebab moyang kita sekali pun tak pernah menceritakan asal-usul kehidupan yang dialaminya.

Untunglah manusia mempunyai kemampuan berpikir yang sangat tinggi, sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk menelusuri kembali jejak-jejak kehidupan masa lampau, mengamati peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala hidup saat ini dan menghubungkannya dengan gejala-gejala hidup dan alam pada masa yang lampau, sehingga muncullah beberapa hipotesis asal-usul kehidupan.

Hipotesis-hipotesis ini senantiasa didukung dengan fakta-fakta agar manusia yakin tentang terjadinya hidup di Bimi. Fakta menunjukkan bahwa Bumi kita sejak awal mula memanggul kehidupan. Menurut dugaan usia Bumi adalah 3000 juta tahun, namun hadirnya kehidupan di atas bumi barulah sekitar 2000 juta tahun dan ini berawal dari makhluk yang sangat sederhana. Hal ini berarti kira-kira seribu juta tahun lamanya Bumi tak dapat atau belum dapat dihuni oleh makhluk hidup. Karena Bumi pada awalnya berupa bola gas pijar yang keadaan atmosfer yang sangat tinggi suhunya, tak mungkin kehidupan itu hadir.

Maka problemanya adalah kalau sejak dahulu ada kehidupan di Bumi, lalu pada saat yang tepat “hidup” akan mempertunjukkan dirinya, dari manakah asalnya kehidupan itu?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Asal Mula Kehidupan

1.      Hipotesis Asal Mula Kehidupan

Setelah bola Bumi mengalami pendinginan dan tebentuk benua, danau, sungai, dan lautan pada kira-kira 2259 juta tahun yang lalu, terbentuklah wahana bakal biosfer, yaitu tempat tinggal makhluk hidup itu melangsungkan kehidupannya. Dalam kehidupan makhluk hidup terbentuk sistem hubungan antar makhluk hidup itu dengan materi dan energi yang mengelilinginya. Tempat dan sistem itulah yang disebut dengan biosfer.

Suatu benda dinyatakan sebagai benda hidup atau makhluk hidup bila memiliki cirri-ciri: (1) melakukan pertukaran zat atau metabolisme, artinya adanya zat yang masuk atau keluar; (2) tumbuh, artinya bertambah besar karena adanya pertambahan dari dalam dan bergerak; (3) melakukan reproduksi atau berkembang biak; (4) memiliki iritabilitas atau kepekaan terhadap rangsangan dan memberikan reaksi terhadap rangsangan tersebut; dan (5) memiliki kemampuan mengadakan adaptasi terhadap lingkungan.

Sebelum makhluk hidup muncul di permukaan Bumi, yang ada hanya bakal biosfer, yaitu lingkungan fisis saja. Oleh karena itu timbullah pertanyaan dari mana dan bagaimana makhluk hidup itu menghuni bumi itu? Untuk menjawab pertanyaan itu terdapat beberapa teori, yaitu:

    1. Hidup dari Tuhan datangnya atau Teori Transendental

Teori ini menyatakan ciptaan yang merupakan jawaban secara religi bahwa benda hidup itu diciptakan oleh Super Nature atau Tuhan yang Maha-kuasa, di luar jangkauan sains. Pandangan semacam ini kita kenal dengan paham “penciptaan khusus” atau special creation yang mengandung pengertian bahwa Tuhan langsung turun tangan kemudian menciptakan kehidupan di atas Bumi. Ilmuwan tidak menolak anggapan ini, akan tetapi sayang, keterangan semacam ini di luar taraf dan batas ilmu pengetahuan. Sesungguhnya, ilmu pengetahuan itu harus berusaha mencari keterangan dalam taraf dan lingkungannya sendiri. Karena itu, ilmu biologi harus mencari jawaban mengenai persoalan bagaimanakah kehidupan itu terjadi. Dengan demikian, harus dihindarkan suatu gambaran tentang “pekerjaan” Tuhan agak anthropomorfistis yang menggambarkan Tuhan bagaikan manusia atau “tukang”. Karena itu, perlu dicari suatu penyelesaian yang termasuk taraf ilmu pengetahuan.

    1. Hidup berasal dari planet lain atau Teori Cosmozoa

Arrhenius (1911) menyatakan bahwa kehidupan pertama dimulai dari spora-spora kehidupan yang bersama-sama dengan partikel debu alam disebarkan dari satu tempat ke tempat lain, di bawah pengaruh sinar matahari. Tetapi teori ini tidak memperhitungkan adanya temperatur yang begitu dingin dan juga sangat panas dan sinar – sinar yang mematikan yang terdapat di angkasa luar, seperti sinar kosmis, sinar ultra violet dan sinar infra merah.

Teori Cosmozoa menyatakan bahwa makhluk yang datang di Bumi dari bagian lain alam semesta ini. Diperkirakan bahwa suatu benda berat telah menyebarkan hidup, dan benda hidup itu merupakan suatu partikel-partikel kecil. Teori ini berdasarkan dua asumsi bahwa benda hidup itu ada atau telah ada dari suatu tempat dalam alam semesta ini dan hidup itu dapat dipertahankan selama perjalanan antar-benda angkasa ke Bumi.

Hipotesis ini belum dapat didukung oleh bukti-bukti yang jelas. Oleh karena itu, pernyataan tersebut belum merupakan jawaban terhadap persoalan kita. Tampak jelas bahwa jawaban tersebut sekedar memindahkan persoalan kita ke planet lain. Kalau hidup berasal dari planet lain, maka kehidupan di planet itu datangnya dari mana. Demikian tak akan ada habis-habisnya kita bertanya.

    1. Teori Pfluger

Teori ini menyatakan bahwa bumi berasal dari suatu materi yang sangat panas sekali, kemudian dari bahan itu mengandung karbon dan nitrogen yang membentuk senyawa Cyanogen (CN). Senyawa tersebut dapat terjadi pada suhu yang sangat tinggi dan selanjutnya terbentuk zat protein pembentuk protoplasma yang akan menjadi makhluk hidup.

    1. Teori Moore

Teori ini menyatakan bahwa hidup itu dapat muncul dari kondisi yang cocok dari bahan anorganik pada saat Bumi mengalami pendinginan melalui suatu proses yang kompleks dalam larutan yang labil. Bila fase keadaan kompleks itu tercapai akan muncullah kehidupan itu.

 

 

    1. Teori Allen

Teori ini menyatakan bahwa pada saat keadaan fisis Bumi ini seperti sekarang, beberapa rekasi terjadi yaitu energi yang dating dari sinar Matahari diserap oleh zat besi yang lembab dan menimbulkan pengaturan atom dan materi-materi. Interaksi antara nitrogen, karbon, hidrogen, oksigen, dan sulfur dalam genangan air di muka Bumi akan membentuk zat-zat yang difus yang akhirnya membentuk protoplasma benda hidup.

    1. Hidup terjadinya secara tiba-tiba atau spontan (Generatio Spontanea)

Suatu pandangan yang dikemukakan oleh filsuf terkenal sebelum masehi, Aristoteles. Ia mengemukakan bahwa hidup ini bermula dari benda mati yang secara tiba-tiba menjadi jasad hidup. Karenanya paham ini disama artikan dengan abiogenesis atau generation spontanea. Hipotesis ini akhirnya tenggelam setelah muncul para ilmuwan lain dengan pola pikirnya yang lebih rasional.

    1. Hidup berasal dari telur

Francesco Redi (1625-1697) adalah nama ilmuwan yang berhasil menumbangkan hipotesis Aristoteles. Ia merupakan orang pertama yang melakukan penelitian untuk membantah teori generatio spontanea. Dia melakukan serangkaian penelitian menggunakan daging segar. Redi memperhatikan bahwa ulat akan menjadi lalat dan lalat selalu terdapat tidak jauh dari sisa-sisa daging. Pada penelitiannya Redi menggunakan 2 kerat daging segar yang diletakkan dalam 2 wadah.

Wadah yang satu ditutupi kain yang tembus udara dan yang satu tidak ditutupi. Setelah beberapa hari, pada daging yang tidak tertutup mulailah keluar belatung-belatung, sementara itu pada daging yang tertutup tidak tumbuh belatung. Tujuan penelitian Redi adalah untuk menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup perlu asal-usul dari mana dia berasal.

Ia mengamati bahwa hadirnya larva (ulat) yang ada dalam sepotong daging karena memang di dalamnya telah terdapat sejumlah telur lalat. Apabila lalat-lalat tidak meletakkan telur-telur di situ, maka daging tidak akan tumbuh ulatnya. Kesimpulannya bahwa hidup itu berasal dari telur. Lahirlah paham omne vivum ex ovo.

    1. Telur berasal dari sesuatu yang hidup

Pada tahun 1765, seorang biologiwan Italia yang bernama Lazzaro Spallaizani, melakukan percobaan yang berlawanan dengan teori Nedham. Spallanzani menyatakan bahwa Nedham tidak merebus tabung cukup lama sampai semua organisme terbunuh dan Nedham juga tidak menutup leher tabung dengan rapat sekali sehingga masih ada organisme yang masuk dan tumbuh.

Lazzaro Spallanzani (1729-1794) berpendapat bila dikatakan bahwa semua hidup bersal dari telur. Kini perlu dipertanyakan pula dari mana asal mula telur tersebut. Ia berkesimpulan bahwa telur-telur tadi pasti berasal dari sesuatu yang hidup. Paham ini dikenal dengan omne ovo ex vivo.

    1. Hidup berasal dari sesuatu yang hidup

Louis Pasteur (1822-1895) menganggap bahwa gagalnya hidup karena tak ada udara yang diberikan. Maka ia melakukan percobaan. Ia menunjukkan bahwa penguraian (pembusukkan) bahan cairan kaldu dan peragian perasan cair dari buah anggur disebabkan oleh mikroorganisme yang terbawa oleh udara. Ia berkesimpulan bahwa hidup berasal dari sesuatu yang hidup apa pun bentuknya. Paham ini dikenal dengan omne vivum ex vivo.

    1. Teori Urey

Harold Urey (1893), seorang ahli kimia Amerika Serikat, mengemukakan bahwa atmosfir bumi pada mulanya kaya akan gas metana (CH4), amoniak (NH3), hidrogen (H2) dan Air (H2O). Zat itu merupakan unsur penting yang terdapat dalam tubuh makhluk hidup. Karena diduga ada energi dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmos, unsur itu mengadakan reaksi kimia membentuk zat hidup. Zat hidup itu mula-mula terbentuknya kira-kira sama dengan virus yang kita kenal sekarang. Zat itu berjuta-juta tahun berkembang menjadi berbagai jenis organisme.

    1. Teori Opatin – Haldane

A. I. Oparin adalah ahli biologi berkebangsaan Rusia. Pada tahun 1924, ia mempublikasikan pendapatnya tentang asal mula kehidupan. Dia menyatakan bahwa makhluk hidup terjadi dari senyawa kimia, dan pada waktu itu di atmosfer belum ada oksigen bebas. Pendapat Oparin mendapat dukungan dari J. B. S. Haldane ahli biologi berkebangsaan Inggris. Pada tahun 1936, Opari berpendapat bahwa makhluk hidup terjadi dari hasil reaksi kimia antara molekul-molekul di dalam lautan yag panas. Lautan yang terbentuk pada mulanya bersuhu tinggi sehingga energinya dapat digunakan untuk berlangsungnya reaksi kimia. Hasil reaksi kimia membentuk semacam uap yang terdiri atas bahan organik, yaitu sebagai bahan pembentuk sel. Pendapat Oparin, Haldane dan Harold Urey, dapat dipandang sebagai hipotesis yang menyatakan adanya evolusi kimia yang mengarah pada terbentuknya makhluk hidup.

 

2.      Bukti-bukti Hipotesis Asal Mula Kehidupan

Pendapat yang banyak diterima secara luas tentang asal-usul benda adalah abiogenesis, yakni berasal dari benda-benda tidak hidup. Walaupun dalam hal ini makhluk hidup yang paling sederhana adalah sangat kompleks dan banyak mengandung sistem biokimia yang masih buntu. Beberapa dari sistem itu hanya berfungsi dalam sel hidup, baik dalam tumbuhan maupun pada hewan dan bagaimana asal-usul system ini masih belum terjawab.

Terdapat banyak bukti-bukti bahwa 2000 juta tahun yang lalu keadaan permukaan Bumi sangat berbeda debgan keadaan permukaan Bumi sekarang. Pada saat sebelum ada tumbuhan dan hewan, udara (atmosfer) terutama terdiri atas gas metan, ammonia, uap air, dan gas hidrogen, serta unsur oksigen dan nitrogen yang sangat reaktif, yang bersenyawa sebagai oksidasi nutrida. Pada permukaan Bumi yang tidak banyak mengandung ozon, maka radiasi sinar tata surya yang berupa sinar ultra violet dan semburan badai listrik manimbulkan panas, maka terbentuklah persenyawaan asam-asam amino yang selanjutnya membuat protein.

Sesungguhnya, sebagian besar hipotesis telah ditunjukkan dengan berbagai contoh pembuktian tentang asal-usul kehidupan. Pada tahun 1963, Stanley L. Miller berpaling kembali pada paham generatio spontanea. Ia menganggap bahwa tidak mustahil hidup ini pernah berkembang dati zat mati.

Kenyataan yang menunjukkan bahwa jasad hidup sebagian besar terdiri dari protein (zat putih telur) yang terurai menjadi unit yang lebih sederhana ialah asam amino, yaitu senyawa yang mengandung nitrogen, dan bila asam-asam amino dipecah lagi, maka akan dihasilkan CH4 (matana), H2O (air), H2 (hidrogen), dan NH3 (ammonia). Demukian pula bila senyawa-senya sederhana diuraikan maka akhirnya diperoleh unsur-unsur C, H, O, dan N sebagai unsur dasar. Bukankah ada kemungkinan bahwa hidup berasal dari senyawa-senyawa sederhana tadi, di mana atmosfer masih mengandung senyawa-senyawa seperti itu.

Terjadinya asam amino secara spontan ditafsirkan sebagai pelaksanan bakal atau kecenderungan yang sudah terkandung dalam gas itu. Bila kita melanjutkan dasar pemikiran ini, maka asam-asam amino cenderung pula menjadi protein dan selanjutnya menjadi protoplasma (jasad hidup) yang juga terjadi dorongan luar. Protoplasma, sekali terbentuk berarti titik permulaan bagi setiap makhluk hidup.

 

  1. Evolusi
    1. Evolusi Kehidupan

Sebagian orang ahli berpendapat bahwa makhluk yang ada pada saat ini tidak mempunyai hubungan dengan makhluk dahulu, karena ada saat tertentu terjadi kiamat (katastrophy), sehingga makhluk yang dahulu musnah, diganti yang baru. Tapi pendapat ini banyak ditinggalkan oleh para ahli dan sebagian besar cenderung berpendapat bahwa makhluk yang ada sekarang ini berasal dari makhluk dahulu melalui perubahan sedikit demi sedikit. Fosil sebagai sisa makhluk dahulu menunjukkan adanya perbedaan dasar letak dan lapisan-lapisan tanah atau umur relatif fosil tersebut. Perubahan-perubahan makhluk itu terjadi sampai sekarang. Manusia sering ikut campur menciptakan varietas baru yang lebih unggul, terutama dalam pertanian dan peternakan. Jadi, makhluk hidup mengalami evolusi.

Dalam teori evolusi dikatakan bahwa makhluk yang mula-mula adalah sangat sederhana tingkatnya, bersel tunggal, dan hidup dari bahan anorganis, sehingga tergolong tumbuhan. Dari golongan tumbuhan itu sebagian berubah menjadi hewan, yang selanjutnya berevolusi menjadi makhluk yang beraneka ragam seperti kehidupan masa kini.

Sekarang orang cenderung beranggapan bahwa evolusi kehidupan terutama disebabkan karena mutasi. Mutasi ialah perubahan spesies yang agak meloncat, dan ini disebabkan oleh perubahan gen atau kromosom sel.

Mutasi yang berarti pindah, yaitu pidah jenis, dapat maju dan dapat mundur. Mutasi mundur terjadi, tetapi jenis yang lebih mundur atau lebih buruk akan mengakibatkan kepunahannya sendiri. Mutasi maju hanya kadang-kadang saja ada, dan ini mengakibatkan perubahan ke arah kemajuan.

Petunjuk evolusi dapat kita lihat dari: (1) geologi dan palaentologi; (2) morfologi dan anatomi perbandingan; (3) reaksi fisiologis perbandingan; (4) penyebaran makhluk di muka Bumi; dan (5) embriologi. Selanjutnya secara bagan sejarah kehidupan di muka Bumi dibagi menjadi enam era. Pada era archeozoik, 2000 juta tahun yang lalu mulai muncul makhluk pertama. Tidak ada fosil tetapi ada beberapa indikasi kehidupan. Pada era proterozoik, 1500 juta tahun yang lalu makhluk yang pertama itu mengalami evolusi menjadi makhluk bersel tunggal (bakteri, alga, dan protozoa). Pada era palaeozoik, dalam periode kambrium, 600 juta tahun yang lalu, muncul Trilobita, Brachiopoda. Dalam periode Ordovicium, 500 juta tahun yang lalu, muncul hewan Chepalopoda dan ikan. Pada periode Silur, 440 juta tahun yang lalu, muncul hewan Scorpio, Crinoidea, dan karang. Pada periode Devon, 400 juta tahun yang lalu, muncul ikan, permulaan hutan dan Amphibia. Kemudian pada periode Karbon Bawah, 350 juta tahun yang lalu, muncul tumbuhan kormofita. Sedang pada periode karbon atas, 325 juta tahun yang lalu, muncul reptilia dan insekta pertama. Pada era mesozoik periode Perm, 270 juta tahun yang lalu, muncul beberapa jenis reptilian. Pada periode Trias, 225 juta tahun yang lalu, muncul bangsa Dinosaurus. Dalam periode Yura, 180 juta tahun yang lalu, mulai muncul burung pertama. Dalam periode Kreta, 135 juta tahun yang lalu, merupakan titik puncak Reptilia, muncul Anthofita. Pada era Cenozoik periode Tersier 70 juta tahun yang lalu, muncul manusia primitif dan hewan mamalia lainnya. Pada periode Kuarter, 2 juta tahun yang lalu, mulai bangkinya manusia, punahnya tipe mamalia tipe primitif, dan berkembang jenis mamalia modern.

 

    1. Penentuan Umur Lapisan Bumi dan Fosil

Penetapan umur fosil dapat dilakukan 2 cara:

• Cara tidak langsung : yaitu dilakukan dengan mengukur umur lapisan bumi tempat fosil ditemukan.

• Cara langsung : yaitu dengan mengukur umur fosil itu sendiri.

Kita kenal beberapa macam cara penentuan umur lapisan Bumi, seperti dengan cara menghitung jumlah lapisan sedimen (endapan) setiap tahunnya, menghitung kadar garam di laut setiap tahun atau dengan cara menghitung penurunan suhu Bumi setiap tahunnya atau untuk kurun waktu tertentu. Dengan cara semacam ini tidak akan dapat diperoleh hasil pengukuran yang akurat.

Kini dijumpai cara pengukuran usia Bumi yang lebih modern, yaitu dengan menggunakan elemen radioaktif. Dengan meningkatkannya pengetahuan isotop radioaktif, hal ini memungkinkan untuk memperkirakan usia Bumi secara lebih akurat, demikian pula fosil-fosil yang ada di dalamnya. Di antara isotop radioktif yang dapat digunakan untuk maksud tersebut adalah Uranium-238 (U-238), Potasium-40 (K-40), dan Carbon-14 (C-14). Isotop Uranium dan Potasium sangat baik untuk memberikan data tentang umur lapisan bumi, sedangkan isotop karbon sangat bermanfaat untuk memberikan data tentang umur fosil.

Elemen radioaktif adalah elemen yang dapat memancarkan cahaya (invisible light) alfa, beta, dan gamma. Elemen radioaktif ini berangsur-angsur meluruh sehingga hilanglah sifat radioaktivitasnya menjadi radioaktif yang massanya menjadi separuh, waktu peluruhannya disebut waktu paruh atau half life.

 

    1. Masalah dan Fakta Mengenai Evolusi

a.       Teori Lamarck

Jean Baptiste Lamarck (ahli biologi Perancis 1744-1829), yang idenya mengenai evolusi dituangkan dalam bukunya “Philosophic Zoologique”. Inti isi buku tersebut :

1.      Alam sekitar atau lingkungan (environment) mempunyai pengaruh pada  ciri-ciri atau sifat-sifat yang diwariskan.

2.      Ciri-ciri atau sifat-sifat yang didapat (auquired characters) akan diwariskan kepada keturunannya.

3.      Organ yang digunakan akan berkembang, sedang yang tidak digunakan akan mengalami kemunduran.

Lamarck berpendapat bahwa evolusi merupakan akibat pewarisan sifat-sifat induk kepada keturunannya. Makhluk dalam kegiatannya mencari makanan untuk hidup mengadakan adaptasi dengan lingkungannya dan memperoleh sifat-sifat yang lebih cocok dan baik dengan lingkungannya. Sifat yang lebih baik itu turut diwariskan kepada turunannya, sehingga keturunannya mempunyai sifat yang relatif baik atau lebih maju dari induknya. Dengan demikian, suatu spesies atau jenis makhluk hidup lambat laun berubah ke arah kemajuan.

Teori lamarck ini mengandung kelemahan sehingga para ahli Biologi tidak dapat menerima pola berpikir atau penalaran semacam ini. Ada dua alasan mengapa teori ini tidak dapat diterima, yaitu:

1.  Proses evolusi terjadi secara tak langsung. Menurut data fosil dapat disimpulkan bahwa proses evolusi berkembang menurut garis dan arah yang berlainan. Sebagai contoh misalnya, gorilla, simpanse, dan sebagainya.

2.  Sifat yang diperoleh dengan cara di atas tidak diturunkan. Bahwa akibat kegunaan dan ketidakgunaan suatu organ akan mengalami perubahan, hal ini memang benar. Tetapi perubahan yang diperolehnya tidaklah diturunkan. Kelak akan diketahui bahwa penurunan sifat hanya bisa terjadi melalui gen atau pembawa sifat kromosom.

 

b.      Teori Darwin

Poda tahun 1831, Charles Darwin mengemukakan teorinya setelah ia mengamati keanekaragaman burung Finch yang terdapat di Kepulauan Galapagos. Teori Darwin dikenal sebagai Teori Seleksi Alam. Dikemukakannya bahwa terdapat beberapa hal yang menyebabkan makhluk hidup berevolusi antara lain overproduksi, stuggle for existence, variasi, survival of the fittest, dan penurunan sifat.

Seleksi alam tergantung pada kondisi lingkunagn di mana makhluk hidup itu. Lingkungan dapat menyebabkan makhluk itu lestari, tetapi dapat pula menyebabkan makhluk itu punah.

Teori Darwin pun mempunyai kelemahan. Teori seleksi alam memang logis. Karena itu teori ini banyak deterima oleh para ahli Biologi modern. Juga karena teori ini menekankan pentingnya perubahan lingkungan dalam hubungannya dengan variasi. Demikian pula evolusi tidak berhubungan dengan kebutuhan makhluk hidup seperti apa yang dikemukakan oleh Lamarck. Kelemahan Darwin ia tidak dapat menunjukkan dari mana dan bagaimana variasi itu timbul pada organisme. Kelak diketahui bahwa variasi itu diperoleh dari perkawinan, setelah Mandel mengemukakan hukum-hukum genetika.

 

    1. Hasil Perkembangan Evolusi

Hasil perkembangan evolusi dapat diamati dari penemuan-penemuan fosil yang terdapat di dalam lapisan Bumi yang telah terpendam jutaan tahun lamanya. Fosil berasal dari kata fodere yang berarti digali. Yang digali adalah sisa kehidupan yang berupa tulang, jejak, atau cetakan-cetakan yang dapat memberikan gambaran tentang kehidupan pada zaman lampau.

Dari data fosil yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa makhluk hidup dengan struktur tubuh sederhana berada dalam lapisan yang lebih tua, sedangkan makhluk berderajat tinggi berada dalam lapisan yang lebih muda. Oleh karena banyak faktor yang mempengaruhi pembentukkan fosil, maka tidak seluruh fosil makhluk hidup dapat ditemukan secara lengkap pada setiap zaman geologi. Fosil yang boleh dikatakan lengkap adalah fosil kuda, sehingga terdapat gambaran yang jelas tentang perkembangan mulai kuda purba sampai kuda modern. Hal ini terlihat jelas dari ukuran tubuh, jumlah jari kakinya dan jumlah geliginya.

Tedapat banyak hal yang membuktikan bahwa evolusi itu benar-benar terjadi. Hal ini tampak dari adnya kesamaan struktur tubuh antara hewan yang satu dengan yang lain. Hal ini dikatakan dengan homologi organ tubuh. Demikian pula adanya kesamaan fungsi organ antara makhluk yang satu dengan yang lain, sekalipun struktur dasarnya berlainan, hal semacam ini dikatakan sebagai suatu analogi organ tubuh.

Fakta lain yang juga memberikan kesimpulan bahwa terdapat kekerabatan antar-makhluk adalah dari perkembangan janin makhluk-makhluk yang menunjukkan kesamaan. Karena terdapat kesamaan ciri itulah Carolus Von Linnaeus dapat menggolongkan makhluk hidup menurut masing-masing tingkatan atau takson dalam klasifikasi makhluk hidup. Urutan takson itu antara lain meliputi filum, klas, ordo (bangsa), familia (suku), genus (marga), dan spesies (jenis). Antara dua takson yang berurutan dimungkinkan adanya takson-antara, misalnya subfilum, subklas, dan sebagainya.

 

  1. Evolusi Manusia
    1. Sifat dari Ordo Primata

Meskipun Linneaus bukan seorang ahli evolusi, namun ia telah menempatkan manusia (Homo Sapiens) dengan betul di dalam ordo Primata, kelas mamalia dari subvilum vertebrata. Bila kita bandingkan dengan sifat-sifat (fenotipe) yang dimiliki oleh familia kera (Fongidae) dengan manusia, maka dengan mudah akan terluhat persamaan-persamaan tertentu di samping perbedaan yang ada. Kebanyakan primata hidup di hutan dan memanjat. Ibu jari dapat dikatupkan denagn jari-jari yang lain, suatu hal yang sangat menguntungkan bagi hewan yang memanjat dan berlompatan di pohon-pohon. Manusia telah kehilangan sifat yang sedemikian itu. Kebanyakan primata mempergunakan tangan dan kakinya untuk memegang sesuatu. Manusia tidak lagi mempergunakan kakinya untuk memegang sesuatu, karena kaki dikhususkan untuk berjalan. Gigi primata adalah gigi pemakan segala, seperti halnya dengan gigi manusia. Pada mamalia, mata terletak di kedua belah samping kepala, yang memungkinkan pandangan dengan sudut yang luas karena kedua mata tertuju ke depan.

Di samping persamaan-persamaan di atas, banyak sifat-sifat yang membedakan manusia dengan kera. Salah satu yang terpenting di antaranya adalah volume otaknya. Familia kera yang terbesar adalah, Gorila misalnya, volume tengkoraknya hanya sekitar 600 cc, sedang volume tengkorak manusia modern yang terkecil lebih dari 900cc. Rata-rata volume otak manusia modern adalah 1230 cc. Tulang dahi di atas mata kera sangat menonjol, pada manusia modern tidak demikian. Dahi manusia mambentuk sudut yang tegak, dahi kera mambentuk sudut yang tajam. Rahang bawah manusia membentuk dagu yang tajam, rahang bawah kera tidak demikian. Tangan kera lebih panjang daripada tangan manusia.

 

    1. Kera Manusia dari Afrika

a. Australopithecus africanus (South African Man)

Dari fosil tulang yang ditemukan menunjukkan bahwa manusia purba ini hidup 1,5 juta tahun yang lalu. Bentuk tengkoraknya menyerupai bentuk tengkorak modern, namun postur tubuhnya sudah mulai tegak, hal ini tampak dari bentuk dan ukuran tulang pinggulnya. Manusia ini menggunakan batu sebagai alat kelengkapan hidupnya. Disamping Australopithecus africanus ditemukan juga tengkorak yang lebih besar dan tulang-tulan yang kekar. Penemuan baru itu oleh Robinson dan Broom diberi nama Australopithecus robustus.

b.      Australopithecus boise (Olduvai Man)

Di Afrika Timur, di lembah Olduvai, Tanazania Utara ditemukan satu fosil manusia yang paling tua. Manusia purba ini hidup kurang lebih 1.750.000 tahun yang lalu. Fosil ini merupakan fosil kepala sejenis manusia yang terdapat bersama-sama perkakas primitif. Dari hasil analisis radioaktif batu-batuan yang terdapat di lapisan tanah tempat fosil itu ditemukan, ternyata umur fosil tersebut kurang dari 2 juta tahun. Setelah dibandingkan dengan ciri-ciri Australopithecus africanus dan Australopithecus robustus, karena umurnya lebih tua mendekati 2 juta tahun maka penemuan tersebut diakui sebagai jenis Australopithecus yang lain. Untuk menghormati Charles Boise sponsor keuangan untuk penggalian tersebut, diberi nama Australopithecus boise.

c. Homo Habilis

Ditemukan oleh Leaky dan teman-temannya. Disebut Homo habilis karena menurut mereka makhluk temuannya yang baru ini adalah manusia (homo) dan Homo habilis inilah yang membuat perkakas primitif. Pada tahun 1960-an, habilis telah diidentifikasikan sebagai manusia pertama yang dikenali sebagai manusia.

d.      Australopithecus Afarensis

Afar adalah suatu tempat di Ethiopia tempat ditemukannya fosil tersebut. Afarensis inilah yang sekarang dianggap telah berevolusi menjadi manusia karena umurnya lebih tua dari Australopithecus africanus. Jadi, bila dijajarkan menurut usianya dapat diperoleh gambaran sebagai berikut: A. afarensis, A. africanus, A. robustus, A. bossei, Homo habilis.

 

    1. Homo Erectus

a.       Pithecanthropus Erectus (Manusia Jawa)

Pada tahun 1920, Eugene Dubois seorang dokter tentara Belanda, menemukan sisa-sisa tengkorak dan tulang paha di Trinil dekat Surakarta, Jawa Tengah. Fosil tersebut diberi nama Pithecanthropus erectus yang artinya manusia kera yang tegak. Umurnya kira-kira 500.000 tahun. Sampai tahun 1923 tidak seorang pun ahli antropologi yang diperbolehkan melihat penemuan Dubois, sehingga satu-satunya sumber informasi adalah keterangan-keterangan yang dikeluarkan oleh Dubois tersebut.

Pithecanthropus kadang-kadang dikatakan sebagai the missink link atau bentuk antara kera dan manusia karena menyerupai kera dan manusia. Berdasarkan struktur tengkorak, diperkirakan manusia Jawa ini mempunyai otak lebih besar daripada Gorila, tetapi sepertiga lebih kecil dari otak manusia modern.

b.      Meganthropus

Pada tahun 1931-1941 telah terjadi penemuan-penemuan lain, baik oleh Dubois sendiri maupun oleh ahli yang lain. Pada tahun 1941, von Koningswald, seorang ahli antropolosi berbangsa Jerman, menemukan fosil yang ukurannya lebih besar dari Pithecanthropus erectus di Trinil dekat Surakarta. Fosil ini diberi nama Meganthropus.

c.       Sinanthropus pekinensis

Penemuan di Jawa itu menarik perhatian Davidson Black, guru besar anatomi kebangsaan Kanada yang pada saat itu mengajar di perguruan tinggi di Peking. Dengan bantuan yayasan Rockefeller, Black melakukan penggalian di gua Chou Kou Tien., dekat Peking yang dimulainya pada tahun 1927. Akhirnya Black menemukan fosil-fosil yang serupa dengan yang telah diuraikan oleh Dubois dengan bagian-bagian yang lengkap. Volume otaknya kurang lebih1000cc (temuan Dubois kurang lebih 914 cc), yang menunjukkan bahwa makhluk itu bukan kera melainkan manusia.

Setelah meninggal pada tahun 1933, pekerjaan penggalian fosil dilanjutkan oleh Frans Weidenreich. Fosil-fosil banyak ditemukan, termasuk fosil rusa dan hewan lain. Penemuan-penemuan di gua Chou Kuo Tien dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun dugaan tentang hal-ikhwal Homo erectus. Weidenreich menamakan temuannya tersebut sebaga sinanthropus pekinensis atau manusia peking, sedang menurut Mary nama Homo erectus pekinensis lebih sesuai dari pada S. pekinensis. Umurnya diperkirakan sekitar 250.000 tahun.

 

    1. Homo Neanderthalensis (Manusia Neanderthal)

Fosil-fosil manusia Neanderthal ditemukan pertama kali pada tahun 1856 di lembah Neanderthal dekat Dusseldrof, Jerman. Diperkirakan bahwa kurang lebih 75.000 tahun yang lalu manusia Neanderthal telah menghuni Eropa. Tanda-tanda manusia Neanderthal tidak sulit dikenali. Tempurung kepalanya besar, berisi otak sebesar otak manusia modern, meskipun bentuknya berbeda. Tempurung itu lebih rendah dan agak menonjol ke belakang dan kesamping. Raut mukanya bercirikan rahang yang kekar, dagu mengarah ke belakang, pipi lebih lebar dengan tonjolan mencolok melengkung di atas mata, sehingga membentuk tampang berkening tebal yang menjadi ciri khas manusia Neanderthal itu. Tingginya kurang lebih 1,70 meter, berbadan kekar, bertungkai kuat dan agak melengkung. Manusia ini tetap bertahan menghuni Eropa sampai 35.000 tahun dan 40.000 tahun yang lalu.

Manusia Neanderthal yang mempunyai ciri-ciri agak modern ditemukan pertama kalinya di gunung Carmel, Islael. Salah satu ciri yang sangat berbeda dengan manusia Neanderthal sebelimnya ialah tulang keningnya yang tidak terlalu menonjol, sedang bagian belakang kepalanya berbentuk lebih membulat. Kerangka yang ditemukan ini adalah kerangka wanita dan disebut wanita Tabun sesuai dengan tempat ditemukannya kerangka tersebut pada tahun 1931.

Pada tahun 1957 di gua Sanidar, Irak, ditemukan suatu kerangka manusia utuh, yang diperkirakan umurnya 450.000 tahun. Tubuhnya lebih pendek daripada tubuh orang Neanderthal. Tonjolan alisnya tidak setajam tonjolan kening orang Neanderthal yang ditemukan lebuh dahulu. Penggalian-penggalian selanjutnya memberikan fakta bahwa mereka tidak lagi mirip dengan manusia Neanderthal tetapi lebih mendekati manusia Cro-Mangnon.

Manusia Neanderthal telah mempergunakan akalnya, intelegensinya, dan perasaannya sebagaimana halnya kita manusia modern. Oleh sebab itu mereka dianggap sebagai Homo sapiens yang paling purba. Sama halnya dengan evolusi fisik, evolusi tingkah laku juga berjalan setapak demi setapak, tidak akan membuat lompatan kejutan. Pada zaman sekarang para ilmuwan sepakat menganggap manusia Neanderthal ini sebagai kerabat yang paling langsung dengan manusia modern, karena adanya persamaan-persamaan yang jelas.

 

    1. Manusia Modern (Homo Sapiens)

Fosil manusia ini ditemukan di lembah Cro-Magnon, Perancis pada tahun 1965. manusia ini hidup kira-kira 25.000 tahun yang lalu dan merupakan Homo Sapiens yang pertama.

Manusia pengganti manusia Neanderthal itu disebut manusia Cro-Magnon sesuai dengan nama ditemukannya fosil tersebut. Dari tulang-tulangnya, manusia Cro-Magnon diperkirakan lebih pendek dari manusia modern, kepalanya lebih besar, dagu menonjol, hidung mancung, gigi-gigi kecil dan rata, mukanya lebar kuat. Maka lebih menyerupai orang Eropa sekarang. Diduga manusia Cro-Magnon adalah leluhur orang Eropa.

Manusia ini mempunyai kemampuan berpikir yang lebih baik dari manusia purba lainnya. Demikian pula mereka telah mengenal kebudayaan. Dalam otaknya yang besar itu mereka telah dapat menghasilkan kebudayaan yang banyak melebihi manusia Neanderthal. Lukisan-lukisan dan ukir-ukiran yang ditemukan di gua Perancis menunjukkan bukti adanya kebudayaan itu. Perhiasan-perhiasan terbuat dari bahan-bahan yang tahan akan pelapukan, seperti tulang, gigi, rumah siput, dan lainnya.

Di samping menghuni gua, mereka pun sudah dapat membuat rumah, kemah, dan hidup bermasyarakat. Sedemikian jauh, makanan mereka peroleh dari hewan dan tumbuhan yang telah tersedia. Bila alam disekitarnya telah langka dengan bahan makanan, mereka akan berpindah tempat.

Hewan yang pertama kali dijinakkan mungkin adalah anjing, meskipun tidak untuk dimakan, mungkin untuk membantu dalam berburu hewan yang lain. Mereka juga melihat tumbuhan itu tumbuh dari biji.

Desa-desa yang pertama kali diketahui orang ialah sekitar delta sungai Nil membentang sampai ke Palestina, Syria, Turki, sampai ke Iran. Demikianlah kurang lebih evolusi sebagian dari kebudayaan manusia Cro-Magnon, meskipun hal tersebut hanya dugaan saja yang didasarkan atas penemuan-penemuan benda purba. Di antara manusia Cro-Magnon dengan manusia zaman kini memang masih terbentang 10.000 tahun. Apa yang terjadi selama waktu itu, adalah yang tengah dicari-cari oleh para ilmuwan.

Perkembangan lebih lanjut dari manusia Cro-Magnon ialah manusia modern sebagaimana kita lihat sekarang ini. Saat kita memperhatikan beberapa fosil manusia, sekalipun semua manusia tergolong dalam spesies yang sama, Homo sapiens, namun tak semuanya sama. Atas dasar kesamaan ciri-ciri jasmani, maka populasi manusia dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu Kaukasoid, Negroid, dan Mongoloid. Hal ini dapat dibedakan dalam warna kulit, tipe rambut, dan  bentuk wajah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan:

Biosfer adalah bagian dari sistem planet bumi yang meliputi udara, tanah dan air, di mana segala kehidupan berkembang.

Hidup berarti mampu mengadakan metabolisme termasuk respirasi, bereaksi terhadap rangsangan luar dengan tujuan mempertahankan diri dan mengadakan reproduksi. Sel memenuhi syarat itu maka sel dianggap sebagai suatu unit kehidupan yang terkecil.

Ada beberapa teori asal mula kehidupan, yaitu:

- Hidup berasal dari Tuhan.

- Teori Cozmozoa.

- Teori Pfugler.

- Teori Moore.

- Teori Allen.

- Generatio Spontanea.

- Omne Vivum Ex Ovo.

- Omne Ovo Ex Vivo.

- Omne Vivum Ex Vivo.

- Teori Urey.

- Teori Oparin – Haldane.

Beda antara makhluk hidup dan benda mati dapat dilihat dari sisi:

- bentuk dan ukuran;

- komposisi kimia;

- organisasi;

- metabolisme;

- iritabilitasi;

- reproduksi;

- tumbuh dan mempunyai daur hidup.

Yang termasuk ke dalam makhluk hidup tingkat rendah adalah sebagai berikut.

- Virus.

- Bakteriofag.

- Rickettsia.

- Bakteri.

- Protozoa.

Penetapan umur fosil dapat dilakukan 2 cara:

• Cara tidak langsung : yaitu dilakukan dengan mengukur umur lapisan bumi tempat fosil ditemukan.

• Cara langsung : yaitu dengan mengukur umur fosil itu sendiri.

Beberapa contoh penetapan umur fosil :

  1. Berdasarkan peristiwa laju sedimentasi.
  2. Kandungan garam
  3. Penentuan umur dengan zat radioaktif.

Fosil subhuman tertua adalah Australophitecus, wujudnya lebih menyerupai kera daripada manusia, kemudian muncul manusia kera dari Jawa, Pitecanthropus erectus yang hidup pada ± 500.000 tahun yang lalu, sudah lebih menyerupai manusia daripada kera, volume otaknya ± 1000 cc, sedang pada gorilla ± 600 cc, dan pada manusia modern ± 1500 cc. Subhuman yang lain adalah Homo neanderthalensis. makhluk ini hidup pada pertengahan akhir Pleistocene, ± 500.000 sampai 50.000 tahun yang lalu. Orang beranggapan bahwa makhluk ini manusia primitif yang pertama. Secara tepat, tak dapat diketahui kapan manusia modern ini muncul, tetapi mungkin yang tertua adalah tengkorak Swanscombe yang umurnya 300.000 tahun dan mungkin sekali lebih tua lagi, yaitu sekitar 500.000 tahun yang lalu. Makhluk ini pun diduga berasal dari Pithecanthropus. Maunusia modern yang menggantikan Homo neanderthalensis adalah manusia Cro-Magnon yang hidup sekitar 50.000 – 20.000 tahun yang lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Annilasyiva. 2006. Asal Usul Kehidupan (The Beginning of Life). http://annilasyiva.multiply.com/journal/item/37. 26 Desember 2008.

Crayonpedia. 2008 . Teori Asal – Usul Kehidupan 12.2http://www.crayonpedia.org/mw/Teori_Asal_-_Usul_Kehidupan_12.2. 26 Desember 2008.

Drost, J. 1992. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Iaduhamka. 2008. Perkembangan Alam Pikiran Manusia Tuhan. http://iaduhamka.blogspot.com/2008/03/perkembangan-alam-pikiran-manusia-tuhan.html. 24 Desember 2008.

Jasin, Maskoeri. 1995. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Purwito, Edy, dkk. 1994. Sejarah Nasional dan Umum. Surakarta : Tiga Serangkai.

Raintung, J. Wulan. 2008. Teori Abiogenesis. http://www.smaker1-tomohon.org/forum/index.php?topic=340.0. 24 Desember 2008.

Raven & Johnson. 2008. Asal Mula Kehidupan – Abiogenesis. http://ateisindonesia.wikidot.com/abiogenesis. 26 Desember 2008.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s